By : ay [ru_phee3@yahoo.com]
“Ting!” Bunyi leher botol bersentuhan dengan bibir gelas. Kulirik sebentar jam besar di dinding. Pukul dua dini hari. Ternyata sudah sepagi ini. Segelas lagi dan aku akan pulang.
“Sial!” Ku lempar botol bir kosong yang ada di tanganku. Rupanya tadi sudah tetes terakhir. Payah. Aku meraba saku celanaku mencari rokok dan pemantikku. Setelah agak lama berkutat dengan saku celana jeans yang sempit dan kaku, ku dapatkan rokokku. Aku bangkit sambil menyalakannya.
“Aku pulang.” Aku memberi pengumuman singkat saat tiba di ambang pintu.
“Kok pulang? Bir lu abis? Ntar gua ambilin di bawah. Lu jangan pulang.” Rendy bangkit dari sofa tempat ia rebahan. Aku berbalik dan mendorongnya mundur hingga terjatuh ke tempatnya semula. Badan besar itu ambruk begitu saja diikuti sumpah serapah khas Bandung, daerah asalnya.
“Gak. Udah pagi. Besok kita sekolah. Aku gak mau di jemur lagi.” Jawabku sambil memungut rokokku yang terjatuh.
“Ra, lu pulang sendiri? Biar gua anter.” Rendy berusaha bangkit.
“Gak! Kamu teler. Kamu juga belum tahu jalanan Surabaya.” Aku mendorongnya sekali lagi lalu berbalik. Tapi tangan Rendy menggenggam erat pergelangan tanganku.
“Mana salam perpisahannya?” Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.
“Dikit aja.” Katanya lagi. Aku menunduk memberi kecupan di pelupuk matanya dan segera berjalan keluar.