By: ZeA Constantine
Aku menghirup aroma kopi dari cangkir yang ada di tangan kananku. Merasa sebal karena langit tiba-tiba memuntahkan air. Dalam hati aku menahan dongkol karena gara-gara hujan aku harus menahan diri untuk tidak pergi ke rumah Fandi. Padahal aku berjanji akan datang ke sana. Gerimis yang semakin deras membuat orang-orang berlari mencari tempat berlindung. Aku pun berada di sini karena alasan yang sama.
Aku benci hujan! Hujan membuat rencanaku menjadi tertunda, dan aku harus menunggunya reda untuk dapat melanjutkan rencana, yang artinya, membosankan.
Tidak banyak yang bisa disaksikan dari tempatku duduk. Yang paling jelas terlihat adalah taman kota yang terletak di seberang jalan. Taman yang semula cukup ramai kini berangsur-angsur sepi.
Di tengah hujan, aku melihat sorang gadis. Jika sebagian besar orang memilih menghindar dari hujan, justru dia memilih berada di tengah-tenganh hujan. Menikmatinya. Dia duduk di bangku taman, merentangkan tangan dengan mata tertutup, dan membiarkan tubuhnya diguyur air hujan.
Saat hujan mereda, dia melangkah kemari. Duduk di meja yang berada di depanku. Kebetulan, dia duduk menghadap ke arahku, membuatku dapat memperhatikannya. Seorang pria (pelayan cafe) datang membawa handuk kering untuknya. Dari jarak sedekat ini, dia terlihat begitu... em... terlihat... em.. bagaimana ya? susah untuk mendiskripsikannya. Kurasa menarik. Rambutnya ikal, tidak beraturan di tiap sisinya. Berani taruhan dia pasti memotong rambutnya sendiri. Dia memiliki sebuah lesung pipi di sebelah kanan, aku tahu saat dia tersenyum mengucapkan terima kasih. Sunguh manis.
Entah mengapa aku ingin mendekatinnya dan berkenalan dengannya. Tapi kuurungkan niatku ketika pria pelayan cafe itu membawakan secangkir kopi dan duduk di depannya. Dari sini, aku bisa mendengar percakapan mereka. Tidak bermaksud menguping, hanya saja suarannya memang terdengar kok!
”Oh ya! Master lagi bikin kue tuh! Jangan pulang dulu!” kata pria itu.
”Beres boss!!!”
”Ganti baju gih! Bisa berabe kalo’ kamu sakit!”
Pria itu bangkit, mengacak-acak rambut gadis itu sebelum berjalan pergi. Gadis di depanku masih sibuk meyeruput kopinya secara berlahan. Dan aku pun masih memandangnya. Ada keraguan dalam hati untuk mendekatinya, sebagian dari diriku berfikir kalau gadis itu memiliki hubungan yang special dengan pria itu, namun sebagian yang lain meyakinkan diriku sendiri bahwa pria itu hanyalah saudara atau teman baiknya.
-13-
Bel berdentang empat kali, tanda jam belajar telah usai. Aku berjalan menuju kantin, begitu enggan untuk pulang karena hujan turun dengan derasnya. Aku mengumpat dalam hati, padahal aku berencana untuk membeli game sepulang sekolah. Tapi apa boleh buat, akhir-akhir ini hujan turun hampir setiap hari.
Aku duduk di bangku kosong dan memesan secangkir cappucino hangat. Aku menegadah ketika seseorang duduk di depanku. Gadis berambut ikal. Dia memesan secangkir Vanilla Latte. Sekilas aku pikir bertemu dengan gadis hujan. Entah mengapa gadis di depanku ini mengigatkanku padanya. Karena sama seperti saat aku bertemu gadis hujan, kami bertemu saat menunggu hujan reda sambil menikmati secangkir kopi. Hanya saja gadis yang ada di depanku ini rambutnya tidak dipotong acak-acakan dan tidak mempunyai lesung pipi.
”Suka kopi?” aku mencoba mengajaknya berbicara.
Dia menatapku. Sepasang mata itu menatapku heran. Dia tidak berkata apapun, hanya mengangguk dan tersenyum. Cukup manis. Tapi entah mengapa aku membayangkan gadis hujan itu yang tersenyum, pasti lebih manis lagi.
Karena dia tidak berkata apapun, aku menjadi kikuk. Aku bingung mau berkata apa. Tiba-tiba saja dia berdiri dan pergi. Aku menatap ke dalam cangkirnya. Ludes!
-13-
Aku, yang sebelumnya membenci hujan karena merepotkan, penunda rencana, dan membuat segalanya menjadi basah, entah mengapa jadi menyukainya.
Aku berharap saat hujan turun aku dapat bertemu gadis itu. Oke. Mungkin ini konyol, tapi aku berharap bisa menemukannya di sini. Di cafe tempat pertama kali aku mendengar suaranya. Bermodalkan secangkir Moccacino, aku berharap gadis itu datang.
Jam ditanganku menunjukkan pukul 05.10. Dua jam lebih aku habiskan menatikan sesuatu yang tak pasti. Aku memutuskan untuk pulang karena aku tahu ini sia-sia.
Namun, entah setan apa yang merasukiku, hampir setiap hari aku mampir ke cafe itu. Menunggu. Berharap hari ini akan datang. Dan jika hari ini dia tidak datang, aku meyakinkan diriku mungkin esok dia akan datang. Aku cukup yakin dia sering datang ke sini, kalau tidak bagaimana dia bisa akrab dengan pria pelayan cafe yang bekerja di sini?
Aku tertawa geli mengigatnya. Bagaimana bisa aku berubah hanya karena seorang gadis, yang bahkan namanya saja aku tidak tahu?
-13-
Langit tiba-tiba saja memuntahkan air hujan. Segera saja aku belokkan sepedaku menuju sebuah toko. Hanya ada aku dan seorang bapak yang berteduh. Kugosok-gosokan tanganku, mencari kehangatan.
Mataku mengamati jalanan. Sudut mataku menagkap sesosok gadis berambut ikal sedang berjalan di tengah hujan. Kepalanya bergoyang seakan mengikuti sebuah irama, dan saat memperhatikan lebih jauh, tangannya bergerak seakan-akan sedang memainkan tuts-tuts piano. Keren!
Sekian lama aku berharap, ternyata aku berhasil bertemu dengannya lagi. Segera saja aku memacu sepedaku menuju tempatnya. Aku tidak ingin kehilangan jejaknya lagi.
”Hai!” sapaku saat berada di sampingnya.
Dia berhenti dan memandangku. Sepasang mata yang indah.
”Siapa ya?”
Aku menunduk, merasa malu. Aku bersyukur karena air hujan menyamarkan wajahku yang memerah. Saat aku memandangnya kembali, dia tengah menatapku dan aku hanya tersenyum. Buset... grogi ini.
”Mau ngopi? Aku yang traktir!” Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja kata-kata itu keluar. Sepertinya mukaku sudah merah padam. Apa yang harus aku lakukan jika dia menolaknya? Mau ditaruh di mana nih muka?
Gadis itu terdiam, menengadah ke atas menatap langit. Hujan kini telah berganti dengan gerimis. Aku menatapnya, keheranan, dan ikut-ikutan memandang ke atas, angkasa yang luas. Titik-titik air hujan membasahi wajahku dan terasa sejuk.
Tiba-tiba saja gadis itu berjalan dan aku hanya berdiri mematung. Yeah, aku harus menerima kenyataan ini. Dia pasti menganggap aneh laki-laki yang tiba-tiba muncul dan menawari mentraktir kopi.
Aku memperhatikan gadis itu berjalan menjauh, dengan gerakan kaki yang terlihat tak beraturan. Berjalan dua langkah ke kanan, satu langkah ke kiri, berhenti sejenak, melompat di tempat, kemudian kembali berjalan. Kemudian pola itu berganti. Dia berjalan lurus kedepan namun kali ini tangannya kembali memainkan tuts-tuts piano imajiner. Aku hanya mengikutinya dari belakang, menggigil kedinginan.
Gadis itu menuju cafe. Aku ragu, ingin rasanya mengikuti dia masuk ke dalam, namun aku cukup tahu diri karena dia telah menolak ajakanku untuk minum kopi. Tapi di sisi lain aku bisa masuk, berpura-pura tidak ada apa-apa dan mengambil tempat duduk di tempat lain. Kuputuskan untuk tidak mempermalukan diri sendiri. Aku pun bersiap mengayuh sepedaku menjauh dari cafe.
”Hey!! Cowok yang bawa sepeda!!” teriak seseorang di belakangku. Aku menoleh. Gadis hujan.
Aku pun menghentikan sepedaku. Kulihat dia berjalan menuju ke arahku.
”Kamu tuh apa-apaan sichh? Bilangnya mau nraktir malah mau kabur gitu aja!! Dasar nggak bertanggung jawab!!!”
Bahkan ketika dia marah pun terlihat manis.
”Turun!!”
Aku pun turun dari sepeda, segera saja dia menuntun sepedaku memasuki halaman cafe.
-13-
”Kenapa suka hujan?” aku bertanya padanya.
Dia menengadah dari kopi yang ada di tangannya. Menatapku sejenak sebelum menjawab, ”Mau jawaban yang jujur atau yang menyenangkan?”
”Dua-duannya”
Dia mengangkat alis, kemudian mulai memainkan ekspresi wajah. Sejenak di terlihat bingung, kemudian raut wajahnya tiba-tiba berubah jenaka, dan sebagai penutup wajahnya menampilkan ekspresi terkejut.
”Well, kalau jawaban yang menyenangkan, itu karena aku suka air. Aku benar-benar menikmati saat air hujan turun membasahi diriku. Seakan-akan semua masalah yang ada di diriku ikut hilang bersama guyuran air hujan. Air yang dingin juga memberikan kesejukan di sini”
Dia menunjuk dadanya sendiri. Kemudian dia melanjutkan, ”Lagipula buat aku, hujan itu sebuah awal baru. Dimana kehidupan ini bergantung pada hujan. Tanpa hujan, aku yakin akan banyak kesedihan. Tanah kering kerontang, tumbuhan kekurangan air, dan hewan-hewan kesulitan mendapat air. Bagaimana mungkin beberapa orang mengangap langit sedang bersedih karena hujan turun? Yang aku yakini langit sedang berbagi kebahagian dengan kita, karena hujan itu sendiri adalah anugerah. Dan aku yakin alam berdendang menyambut hujan. Tumbuhan, hewan, dan manusia-manusia yang tahu rasa bersyukur.”
”Dan karena hujan bagiku adalah sebuah awal, maka aku ingin air hujan yang membasahi tubuhku pun mengalirakan semangat yang baru . Upst! Sorry, kalau terlalu berbelit-belit.”
Aku hanya menatapnya kagum. Yeah, ketika semua orang menghindari hujan, dia menikmati setiap tetesan yang membasahi tubuhnya.
”Lantas, jawaban yang jujur apa?”
Lagi-lagi sebelum menjawab dia memainkan ekspresi wajah. Kali ini dari ekspresi sedih, berubah ketakutan, dan yang terakhir dia tersenyum isenk. Kalau begini, bagaimana aku bisa bosan memperhatikannya?
”Yang jujur.... enaknya jawab apa ya?” tanyanya dengan wajah sok inocent.
Aku tertawa. Mungkin aku juga harus bersyukur pada hujan, karena telah menjadi awal pertemuanku dengannya, My rain girl. Setidaknya biarpun aku tidak dapat menganggap hujan sebagai sesuatu yang luar biasa seperti dia, namun ucapannya membuatku mengubah pandanganku tentang hujan. Biarpun hujan itu menyebalkan tapi memiliki akhir yang indah, pelangi. Begitu juga aku, menemukan keindahan dalam hujan.
-13-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar