Name : ru_phee3
Title : Batas Langit
Cast(s) : Lisha (Nabi), Dipta, GyuHyeon,
Seongmin, and other Super Junior’s members, also Seunghwan manager, with three other ocs
Genre : Family, Angst(?)
Rating : General
Length : Series
Rating : General
Length : Series
Author's
Note : The two casts are mine.. Super Junior member’s are not mine.. The story is
mine.. Not the real one, but made up from one.. I hope no bashing, but critics
are valuable, as worth as gold.. enjoy.! n_n
“Hyeong!” Aku berlari ke pelukan
Seunghwan hyeong setelah melewati gerbang kedatangan luar negeri. Dengan memeluk
orang Korea pertama yang kutemui, setelah lebih dari dua belas bulan mataku
dipenuhi oleh sosok-sosok jangkung berkulit putih berlidah cadel di kota yang
disebut London, ada satu rasa sakit yang seketika terbebas. Aku merasa segar
karena kali ini aku juga disambut oleh serbuan dingin angin musim gugur yang
mulai berhembus di Incheon. Yakin, aku akan menjalani hari yang baik di sini.
Pelukan antar pria adalah sesuatu
yang cepat, keras, dan disertai pukulan ringan di punggung. Sayangnya hal itu
tidak kudapatkan kali ini. Si Prince Manager ini benar-benar mendekapku
layaknya seorang kekasih. Intens dan
lama. Ia seperti tidak merasakan beberapa pandangan menghujam di punggungku,
yang mungkin mengira aku mengidap kelainan psikologi tentang ketertarikan
terhadap orang lain.
“Dipta-neun eodiseoyo?” tanyaku
untuk menghilangkan rasa jengah juga sebagai cara untuk melepas rengkuhan
posesifnya. Kenyataan bahwa ada dua orang lelaki berpelukan mesra di depan umum,
dan aku adalah salah satunya, cukup untuk menenggelamkan seluruh pikiran
positifku. Apakah ini pertanda hari-hari berikutnya aku akan mendapat masalah?
Di suatu tempat dan waktu yang
lain, saat aku kembali ke kehidupan yang kuanggap nyata, menerima perlakuan
seperti ini dari seorang pria adalah hal yang biasa. Tapi tidak saat aku sedang
berpakaian ala lelaki, menggunakan nama Park Nam Bin, dan berlaga layaknya
seorang bocah dalam masa pencarian jati diri. Aku masih merasa desiran perasaan
feminin di bawah nama Lishany Ayu yang sayangnya harus kusembunyikan
rapat-rapat. Setidaknya sampai apa yang dulu kumulai telah mencapai garis
akhir.
“Dipta? Obseo. Kau tidak suka
kalau aku yang menjemputmu? Kau tidak menyayangiku, rupanya.” Ia melepaskan
pelukannya. Menyayanginya? Kata apa yang baru saja diucapkannya? Ia membuatku
bergidik ngeri. Dengan ekspresi kesal, ia menghadapkan wajahku ke wajahnya.
“Dan berhentilah memanggilku ‘hyeong’. Neoga yeojainde. Oppa. Panggil aku
oppa,” titahnya.
“Eh?” gumamku, terkejut. Dalam
hati aku mengumpati nasibku yang sedang sial. Rahasiaku terbongkar. Ini adalah
awal dari hari-hari buruk yang akan datang menyiksaku.
“Aku sudah tahu. Kogjeongma. Yang
lain belum tahu apapun,” jawabnya saat menyadari raut panikku.
“O.. oppa,” ucapku, mencoba
panggilan baru untuknya. Rasanya ingin muntah saat ini juga. Di otakku muncul
bayangan yang tidak-tidak tentang seorang gadis berpakaian sangat feminin
memanggil kekasihnya dengan pipi yang merona. ‘Oh no!’ Aku ingin sekali
menggali lubang dan menguburkan diriku saat ini juga.
“Matda.
Eodde? Lebih enak didengar?” Orang di hadapanku itu menaikkan sebelah alisnya,
tak lupa cengiran bahagianya. Tidakkah ia melihat mukaku yang pucat pasi? Aku
hampir mati menahan malu dan ia menikmatinya? Aku benar-benar butuh pintu
kemana saja milik Doraemon sekarang.
“Ne,” jawabku sambil memaksakan
sebuah senyum. Walau bagaimanapun masih ada rasa tidak percaya di pikiranku.
Tanpa perlawanan yang berarti, aku mengikuti kemauan pemilik wajah manis di
depanku. ‘What for?!’ bentakku tanpa suara ataupun gerak bibir.
“Gaja. Yang lain sudah menunggu.”
Pria yang jauh lebih jangkung dariku ini menggiringku keluar, menuju tempat
parkir.
-_-‘)
“Jadi ada masalah apa,
sampai-sampai Teuki hyeong mengirimiku e-mail menyedihkan seperti itu?” tanyaku
setelah mobil yang kami tumpangi mulai membelah jalanan. Duduk diam di dalam
mobil dengan pendingin yang berhembus tepat di muka membuatku cepat tertidur. Masalahnya
adalah aku tidak yakin akan tidur dengan tenang. Aku memiliki riwayat memalukan
saat jatuh tertidur. Jadi kuputuskan untuk membuka obrolan ringan –sedikit
berat, sepertinya- dengan Seunghwan hyeong yang tengah menyetir.
“Kau yakin akan membahasnya
sekarang? Masalah ini terlalu berat untukmu yang sedang terkena jet lag,”
jawabnya, tanpa melirikku sedikitpun. Si Prince Manager ini sama seperti orang
Korea lainnya -selalu fokus saat berada di balik kemudi, yang artinya tidak
mungkin diganggu. Selain itu dari mana ia tahu masalah jet lag yang selalu
menyerangku setiap turun dari pesawat? Atau itu hanya alasan saja agar aku
tidak mengganggu kegiatannya?
“Eung. Araseoyo. Aku hanya akan
bertanya satu hal. Hy.., maksudku oppa, akan membawaku kemana? Mencari
penginapan dulu atau langsung ke apartemen mereka?” Aku nyaris salah ucap.
Manager yang sedang nge-top ini telah memerintahkanku untuk memanggilnya ‘oppa’
atau aku akan mendapatkan ciuman gratis darinya. Sayangnya aku tidak rela
menyerahkan bibirku pada sembarang orang.
“Kita langsung saja. Bukankah kau
tidak punya waktu banyak? Hanya beberapa hari, geuchi?
Tinggal saja bersama mereka,” ujarnya masih tetap menatap ke depan. “Eodde?”
lanjutnya sambil melirikku sepersekian detik. ‘Mereka’-lah yang menjadi
tujuanku untuk datang ke Negeri Ginseng ini. Apa aku di posisi untuk menolak?
“Araseoyo, oppa,” jawabku. Akhirnya
kuputuskan untuk diam hingga tempat tujuan karena tidak ada kesempatan untuk
bercakap-cakap bila lawan bicaramu sedang menyetir.
Dalam pikiranku aku bersyukur
saat ia memutuskan untuk tidak mengantarku mencari penginapan., karena aku
memang sudah memiliki tempat tinggal tetap yang memang sangat kurahasiakan.
Tidak mungkin bukan, aku merelakan lembaran won berhargaku untuk menyewa kamar
hotel demi sebuah rahasia? Aku cukup pelit untuk masalah yang satu itu.
-_-‘)
“Oppa, jamsimanyo,” kutarik
lengan Seunghwan hyeong sebelum ia sempat menyentuh kotak sensor di pintu,
membuatnya segera membalikkan badan ke arahku.
“Wae saeng-a?” tanyanya dengan
ekspresi yang hangat. Kelakuannya yang memperhatikanku selayaknya wanita
membuatku bedebar. Ia berpotensi sebagai penghancur rencanaku. ‘Aku lelaki, aku
lelaki,’ hipnotisku pada diri sendiri.
“Eung.. Aku akan memanggilmu
hyeong selama ada mereka.” Aku menunduk malu sambil menunjuk ke arah pintu.
Sangat tidak enak sebenarnya, membuat orang lain ikut berbohong demi drama
konyol yang sedang kujalani. Harusnya cukup seorang saja yang kulibatkan dalam
urusan ini, dan itu bukan dirinya.
“Ara.” Ia masih tersenyum sambil
menepuk kepalaku, membuatku salah tingkah.
‘Seunghwan oppa, jangan membuatku
jatuh cinta. Aku sudah ada yang punya!’ teriakku dalam hati, tak lupa dengan beberapa
umpatan sebagai tambahan.
“Ya! Apa yang kau lakukan di
depan pintu, hyeong? Cepatlah masuk! Semua sudah ada di dalam. Tak tahukah kau,
kami masih ada jadwal setelah ini?” Gyuhyeon, muncul dari balik pintu dengan
muka bersungut-sungut, mengejutkan kami berdua yang tengah berdiri membelakangi
pintu. Pria berkulit pucat ini adalah salah satu dari ‘mereka’.
Sejenak, wajah Seunghwan oppa
berubah datar. “Tak tahukah kau, semua jadwal kalian telah dikosongkan sampai
besok lusa?” balasnya dengan nada yang sama kasarnya saat lewat di hadapan
Gyuhyeon. “Na wasseo.” Terdengar suaranya yang telah sampai ke dalam diikuti
celotehan sebagai jawaban dari salam singkatnya.
Sedangkan Gyuhyeon masih
tertinggal di ambang pintu dengan raut yang membeku. Tak lama kemudian, ia
berjalan masuk sambil menutup pintu dengan kaki. Sebuah geraman kesal terdengar
sebelum balok kayu tebal itu mengayun tertutup tepat di depan hidungku.
“Damn you Jo Gyuhyeon!” umpatku ke
arah pintu karena pria berjiwa usil itu hampir menghantamkan pintu ke mukaku.
Dan bagaimana mungkin gadis cantik sepertiku ditinggalkan begitu saja di luar?
Bahkan tanganku yang tadi ingin memeluknya masih mengambang di udara. Ingin
rasanya melemparkan sekarung batu bata ke kepala jeniusnya itu.
‘Mungkin sesuatu telah terjadi
pada Pria Busuk itu. Penyakit evil-nya sudah semakin parah.’ Aku tersentak.
‘Apa aku tadi berkeinginan untuk memeluk seorang Cho Gyuhyeon layaknya seorang
gadis sekolahan bertemu idolanya? Aku bahkan bukan penggemar fanatiknya!’
Batinku bertanya-tanya tentang sebuah kegilaan yang sempat terlintas di
kepalaku. Padahal aku harus menjadi lelaki sampai beberapa hari ke depan di
hadapan semua orang. Aku sadar rencana yang kubangun mulai goyah.
“Seunghwan oppa, kau nyaris
membuatku mati gaya,“ runtukku sambil mengacak rambut. Ini pasti karena
perlakuan Si Prince Manager padaku. Jadi, kupersiapkan diriku sebagai lelaki sebelum
memasuki sarang para ajeossi serigala, ‘mereka’. Mulai dari gaya berdiri dan
berjalan hingga suara dan nada bicara yang akan kugunakan. “Untung saja peranakan
iblis itu tidak menyadarinya.”
Aku bercermin pada daun pintu
yang mengkilat untuk terakhir kali sebelum menatap kotak sensor dalam-dalam.
Pikiranku masih berputar pada keinginanku sebagai seorang wanita yang tiba-tiba
bangkit karena perlakuan Seunghwan oppa,
lalu sebuah tuntutan sebagai sosok lelaki di hadapan yang lainnya. Tak ayal
secercah rasa asam merambat naik ke tenggorokanku, menumbuhkan keraguan.
‘Sampai kapan aku akan terus begini? Sudah cukup lama aku bermain dengan takdir
dan waktu,’ batinku sendu. Yang mampu aku lakukan saat ini hanyalah
menyelesaikan apa yang telah aku mulai.
Lalu aku menyadari satu hal bodoh.
Aku masih berada di luar dan terkunci. ‘Aku ingin masuk, tapi harus dengan cara
yang keren,’ putusku.
“Bel atau sensor?” Aku mengguman
sambil mengamati kotak berwarna hitam di hadapanku. Bel, berarti bertamu. Itu
tidak mengejutkan. Sensor, aku masuk sendiri, muncul di antara ‘mereka’ secara
mengejutkan. Itu keren. ‘Tapi apa masih bisa?’ Kutatap Telunjuk Sakti-ku yang
dengan mudahnya membantuku keluar masuk ke dalam apartemen ‘mereka’, dulu. “Kurasa
tidak ada salahnya mencoba peruntungan.” Kuarahkan telunjuk kananku ke atas
benda yang langsung men-scan sidik jari. Semoga saja sekarang masih berfungsi.
“Bip!” Aku melengos kesal. Bunyi
tadi menandakan sebuah penolakan. Apa mereka sudah menghapus dataku? Atau
posisi jariku yang salah?
“Oh, my God.” Aku menggigit bibir
bawahku dan mulai meletakkan telunjukku lagi ke permukaan dingin itu.
“Bip!” Rasanya sebal setelah bunyi
penolakan itu terdengar setiap kali aku mencoba. Kata terbuang memang cocok
untukku. Pada kenyataannya, ditilik dari manapun, akulah yang membuang diri.
Akulah yang menjauh dari ‘mereka’. Lebih buruk lagi secara tiba-tiba.
“Argh! Bad sensor! Let me in, Stupid!”
marahku pada kotak tak bersalah yang diam menempel di pintu. Kutundukkan
kepalaku dalam kedukaan. Beberapa saat lagi gengsiku akan mati setelah ujung
tanganku menempel di sebuah tombol bernama bel. Tapi entah mengapa nuraniku
berkata untuk mencoba sekali lagi.
“Bip bip!” Aku segera mendongak
setelah mendengar suara dari surga. Tanda pintu terbuka.
‘Thanks God. You’ve saved me from
being thrown away. Dan harga diriku masih utuh.’ Didalam otakku, aku telah
melompat-lompat dan bersalto ria.
“Iblis?” Sebentuk kepala muncul
dari celah pintu yang terbuka. Suaranya sangat aku kenal.
“Setan.” Hanya satu kata itu yang
keluar. Entah sudah seperti apa wajahku saat ini. Percampuran antara rasa
terkejut, kerinduan, dan bahagia yang bertemu dengan rasa kesalnya tertipu dan
lelah. Pemilik kepala itulah yang membuka pintu dari dalam. Bukan aku yang
berhasil membuka pintu dari luar.
“Neo..”
“Setan!” teriakku yang langsung
menghambur ke arahnya. Mendorong pintu hingga menjeplak terbuka demi mendapat
pelukan hangat dari karibku yang lama tak berjumpa. “I miss you so much!
Jeongmal bogosipeoseoyo!” racauku pada Setan-ku, seorang pria bernama Dipta
yang kini memelukku dengan erat. Rasa rinduku yang terobati menghanguskan kata
kesal yang sempat melayang-layang di kepalaku. Aku tidak akan merasa kesal
padanya, karena hanya pada pria inilah aku menggantungkan segalanya, hidupku
dan rahasiaku –tadinya.
“Babo! Kemana saja kau?
Berbulan-bulan menghilang dan aku hanya menerima sebuah e-mail yang bahkan
tidak tertuju padaku secara pribadi. Kau tahu betapa khawatirnya aku? Apa
sekarang kau sedang kabur dari pria itu? Apa pria itu menyakitimu? Malhaebwa. Aku
akan menghajarnya.” Cecar tanpa jeda menghujaniku setelah lepas dari rengkuhannya.
Walau ia pria, hanya lengannya yang tak pernah kutolak kapanpun, dimanapun, dan
seperti apapun situasinya.
“Araseoyo, Dipta-nim.
Jweseonghamnida. I’ll give you regular reports next time. And I’m sorry for
disappeared and made you worrying about me.” Aku memasang tampang sepolos mungkin, berharap ia mau memaafkanku.
“Ne. Gwaenchanha. As long as
nothing’s wrong about you, it’s okay for me.” Aku terlalu baik untuk tidak dimaafkan.
“Hhh. Welcome home.” Ia memelukku sekali lagi lalu menarikku masuk ke ruang
tengah dimana berpasang-pasang mata menatapku tak percaya.
“Nabi-ya!” seru ‘mereka’, yang
beberapa saat terdiam, kemudian menghambur ke arahku yang bahkan belum sempat
mengambil nafas untuk memberikan salam pertamaku. Sepertinya ‘mereka’ begitu
merindukanku. Sampai-sampai aku merasa tulangku remuk karena pelukan mereka.
“Hyeongdeul! Kalian ingin
membuatku mati tergencet, eo?!” teriakku di sela-sela usaha mencari oksigen.
Bayangkan badanku yang kurus kering dihantam tubuh-tubuh penuh otot yang tidak
hanya memberi pelukan ‘terlalu hangat’, tapi juga mengacak rambut, mencubit
pipi, menjitak, dan hal-hal anarkis lainnya. Aku bahkan sudah tidak merasakan
lantai di telapak kakiku. Tubuhku terangkat dengan sendirinya oleh desakan
mereka.
“Bogosipeoseo!” Seongmin hyeong
lebih dulu mengucapan salam sebelum mendaratkan pelukannya di atas dua Pelukan
Gorilla milik Eunhyeok hyeong dan Donghae hyeong. Ia hanya mendapat senyum
cerah dan anggukanku. Bagaimana aku dapat membalas salamnya bila untuk bernafas
saja aku harus berusaha keras?
“Ya! Fishy Couple! Jangan
memelukku terlalu kencang! Tenaga kalian terlalu kuat!” Aku berusaha mengusir
empat lengan milik Eunhyeok hyeong dan Donghae hyeong yang tengah membungkus
tubuhku tanpa hasil yang berarti. Aku bahkan tidak dapat menjawab salam
Seongmin hyeong dengan benar.
“Jeongmal bogosipeoseo!” ucap
Eunhyeok hyeong tanpa ada tanda-tanda akan melepas dekapannya. Begitu juga
Donghae hyeong.
“Yeseong hyeong! Hentikan! Pipiku
sudah sakit!” Kugeleng-gelengkan kepalaku berusaha lepas dari cubitan gemasnya.
Aku yakin setelah ini pipiku akan menggelambir beberapa senti. “Ah! Ajeossi
tua! Sampai kapan kau akan mengacak-acak rambutku?”
“Aku masih terlalu muda untuk di
panggil ajeossi, aema!” Eeteuk hyeong, orang terakhir yang kuprotes balik
membentakku walau masih dengan tawa gembiranya.
“Appo!” teriakku keras-keras
hingga akhirnya mereka membebaskanku dengan wajah tidak rela.
“Mianhae,” ucap Seongmin hyeong
dengan Wajah-Imut-Tanpa-Dosa miliknya lalu memberikanku pelukan ringan.
“Gwaenchanhayo, hyeong.” Aku
membalas pelukannya.
“Nabi-ya, mianhae.” Ucap Fishy
Couple sambil bersiap untuk memelukku lagi.
“Hajimayo!” seruku sebelum ada
lebam yang muncul berkat dua orang hiperaktif itu.
“Hehehe,” tawa mereka dan tetap
memelukku. Beruntung kali ini cukup ‘tanpa tenaga’ untuk tidak membunuhku.
“Teuki hyeong! Bogosipeoseoyo.”
Aku membalas juga rengkuhannya yang sedikit erat. Eeteuk hyeong, Sang Leader dari
sekelompok dongsaeng gila ini tampak terenyuh.
“Na do,” jawabnya sambil menyusut
air mata dengan jari, membuatku tersenyum geli.
Ingat kata-kataku tadi yang hanya
menerima perlakuan dari Dipta? Ternyata aku juga menikmati perlakuan dari para
pria tampan ini. Hey, mereka ‘hyeong’-ku. Salahkan aku sebagai ‘saeng’ mereka
mendapat perlakuan seperti itu?
“Annyeong haseyo, yeorobun.
Jeoneun Park Nam Bin-imnida. Manaseo bangabseumnida.” Kusapa seluruh orang yang
ada di dalam ruangan. Semua anggota Boyband Super Junior, para manager hyeong
-juga para asisten mereka-, dan para coordy nuna membalas salamku secara
serempak.
Tak terasa sudah lebih dari satu
tahun aku meninggalkan mereka, Super Junior. Tampaknya tidak ada yang terlalu berubah.
Walau ada beberapa pengecualian, seperti beberapa nuna yang duduk di sudut
ruangan. Mungkin mereka coordy nuna-deul yang baru, karena tidak kulihat tiga
coordy nuna yang biasa muncul. ‘Biasa? Aku sudah menghilang cukup lama. Tidak
heran trio nuna-deul itu tidak lagi bersama Super Junior,’ cemoohku pada diri
sendiri.
“Ada acara apa semua berkumpul di
sini?” Aku menyodok rusuk Eeteuk hyeong yang sejak tadi berdiri di sampingku.
“Ada gathering sebelum individual
schedule. Setelah ini kami akan meluncurkan album baru. Ja. Selamat datang,
Nabi-ya. Yeorobun, gaja, kita siapkan mejanya.” Leader satu ini mulai
mengkomando semua orang. Entah kapan kebiasaan memerintahnya yang satu itu akan
sembuh.
Saat semua orang menyebar ke
seluruh penjuru apartemen, aku memilih berdiri di hadapan Gyuhyeon, Si Magnae
Gila yang tampak tertegun di ujung sofa. “Kau tidak mau memberi ucapan selamat
datang padaku, Gyu? Dan terima kasih untuk hampir menciumku dengan pintu.”
“Eo?” Pria Bocah itu tersadar dan
langsung saja memasang tampang acuh. “Welcome to our dormitory,” jawabnya
singkat sebelum bangkit dan berjalan pergi entah kemana.
“What the hell is..” ucapanku
berhenti begitu saja saat pandanganku jatuh pada Huicheol hyeong yang tengah
menggendong Huibeom, kucingnya. Mungkin karena rautku yang berubah kaku, ia
terkikik geli.
“Ara, ara” Ia menurunkan kucing
berwarna deep purple itu lalu merentangkan lengan. “Neo wasseo, uri Nabi.
Nappeun aema. Kau menghilang. Tidak ada yang mampu menakhlukkan makhluk buas
itu.” Hyeongku yang paling cantik ini merajuk saat merengkuhku. Ia pasti sudah
menyerah atas sikap usil seorang Jo Gyuhyeon. Aku mampu menakhlukkan peranakan
iblis itu? Mungkin. Apa aku bangga? Sangat!
“Araseoyo, hyeong. Mianhaeyo,”
jawabku sambil tersenyum. Betapa aku merindukan wajah cantik yang jauh lebih
menarik dariku ini. Hyeong yang selalu berbagi denganku. Atau oppa? Hey, di
antara mereka semua, aku mengenalnya lebih dulu, dalam kondisi wanita tulen.
“Nabi-ya. How are you today?”
Suara Shindong yeong menginterupsi
pembicaraan lewat mataku dengan Huicheol hyeong. Pronunciation-nya yang cukup
amburadul membuatku tergelak.
“Nan gwaenchanhayo, hyeong,”
ucapku. “Pipimu menghilang!” seruku yang kemudian memperoleh pertunjukan ‘perut
sedikit lemak’ olehnya. “Tapi tetap saja. Jangan terlalu bersemangat saat
memelukku, hyeong. Lenganmu masih sama besarnya dengan pahaku.” Aku
melingkarkan jari-jariku ke lengan atasnya, lalu ke pahaku sendiri. “Hyeong
lihat? Untung saja hyeong tidak ikut group hug tadi.” Shindong hyeong tergelak.
Bahkan Huicheol hyeong tertawa keras atas ledekanku. Pria ajumma satu itu
memang suka bila seseorang sedang ditindas.
“Ya! Pasti kau sekarang sudah
berada dalam perjalanan ke rumah sakit
karena patah tulang,” gurau Shindong hyeong sambil menepuk kepalaku. Dalam
bayanganku aku duduk bersama Ibu Peri Cantik di Batas Langit untuk menunggu
Dipta datang. Aku menggeleng, menghilangkan pikiran konyolku yang kuharap akan terjadi
berpuluh-puluh tahun dari hari ini.
“Hyeong, bayar lima ribu won
karena menyentuh kepalaku.” Kupasang ekspresi datar yang langsung mendapat
tepukan dasyat di bahuku.
“Penyakitmu dan penyakit Dipta
yang satu itu harus dihilangkan!” marahnya yang membuatku langsung berlari ke
tempat Siwon-ssi berdiri, meninggalkan tubuh tambun itu berteriak-teriak gemas
dengan Huicheol hyeong yang pastinya terpingkal-pingkal atas percakapan
terakhir. Saat kulirik lagi, mereka sedang ber-gossip tentang kelakuan ajaib
dua orang terdekat mereka yang sama-sama berasal dari Indonesia. Siapa lagi
kalau bukan Dipta dan aku?
“Annyeong, Siwon-ssi.” Aku
membungkuk di depan pemilik tubuh terseksi di antara semua orang yang ada di
ruangan ini. Entah mengapa aku tidak pernah bisa memanggilnya dengan sebutan
sayang seperti pada yang lain. Mungkin kesan manly yang ada padanya membuatku
segan untuk berbuat gila di depannya. Padahal, kadar kekonyolannya se-level
dengan Duo Fishy, pasangan Eunhyeok hyeong dan Donghae hyeong.
“Annyeong, Nabi-ya.” Ia menepuk
kepalaku sekilas. “Long time no see,” tambahnya dengan senyum yang menggiurkan.
‘Sial,’ umpatku dalam hati. Mengapa aku merasa banyak orang yang
memperlakukanku seperti adik perempuan kecil mereka hari ini? Hey, I’m a man
right now! Aku melambai-lambai konyol dalam pikiranku.
“Yup. Did I missed a lot of
things?” Berbicara menggunakan Bahasa Inggris dengannya memang lebih menyenangkan.
Aku tak perlu berpikir keras untuk mengatakan sesuatu karena kami sama-sama
memahami bahasa internasional yang satu ini.
“I guess so. Have you ever met
those three nunas?” tanyanya sambil menunjuk tiga orang yang sedang berdiri di
dekat jendela sedang mengagumi tanda penghargaan yang sengaja dipajang di sana.
“Nope. Who are they? Coordy
nuna-deul?” tebakku. Pria manis ini mengangguk.
“Let me introduce them.” Ia lalu
berjalan ke arah mereka. “Nuna-deul, Nabi-ga. Nabi-ya, this is Hyera nuna,
Sunbin nuna. Igeo, Cheol.. cheol..” Siwon-sii menunjuk mereka satu persatu dan
berhenti pada wanita terakhir. Ia lupa siapa namanya.
“Cheol aniya.” Nuna yang sedang
ditunjuk protes. Ia lalu menyalamiku sambil tersenyum,“ Hi, my name is Caeri.” Kata-kata
perkenalannya membuatku membelalakkan mata. Hey, ia bisa berbahasa Inggris
dengan
pronunciation yang tepat.
“She was working at Korean embassy
for Swiss.” Dalam otakku langsung muncul lampu pijar yang menyala terang.
Penjelasan Siwon-ssi segera saja menghilangkan
kerut di alisku.
“Do you speak Hangeug?” tanya
wanita yang tampaknya berumur lebih dari tiga puluh lima tahun ini.
“Ne, waeyo, nuna?” tanyaku balik.
“Omona, kau bahkan memiliki aksen
seperti orang Korea asli.” Aku hanya tersenyum menanggapi tiga nuna dihadapanku
ini. “Dan mengapa mereka memanggilmu ‘butterfly’, Nabi? Bukan Nam Bin?”
tambahnya dengan wajah yang tampak berpikir keras.
“Aku memang pernah tinggal di
Korea,” jawabku lalu menoleh ke arah jendela. “Kalau nama, tanyakan pada hyeong-deul”
“Eo?” Secara serentak tiga kepala
melayangkan tatapan penuh tanya pada Siwon-ssi.
“Ceritanya panjang.” Hanya itu
jawaban yang mereka terima dari Korean Idol di sebelahku ini. Jelas semakin
membuat mereka penasaran dan terjadilah hal yang telah diperkirakan, Siwon-ssi
menjelaskan panjang lebar kekonyolan yang pernah terjadi di antara kami.
Untukku yang telah mendengar
kebodohan itu berkali-kali, sudah pasti terasa membosankan. Entah mengapa
mereka masih suka sekali menceritakannya? “Daesang. Makin banyak.” Aku
tersenyum di tengah gumamanku. Berdiri di dekat daesang yang ditata rapi
membuatku terlempar ke masa lalu.
“Ne. Aku tidak pernah menyangka
daesang yang mereka punya ada sebanyak ini.” Chaeri nuna memandang jajaran
benda-benda di jendela dengan takjub.
Kini aku yang takjub oleh
kelakuan mereka. Bukankah sudah banyak sejak dulu? Jelas selama satu tahun ini
semakin bertambah, tapi jumlah daesang yang mereka miliki memang banyak.
Siwon-ssi terkekeh, membuatku
yang semula memandang heran tiga orang di hadapanku, menoleh heran ke arahnya.
“Mereka baru bekerja tiga bulan terakhir.
Jadi mereka masih seperti itu.” Kangin hyeong menepuk kepalaku.
“Hyeong,” Aku memeluknya sekejap.
“Bayar lima ribu won,” tambahku yang disambut raut ‘hollow’-nya. Setelah
diperhatikan, badannya mengimpor lemak lebih banyak dari satu tahun yang lalu.
Apa Shindong hyeong memindahkan lemaknya ke tubuh Kangin hyeong?
“Kau juga sama anehnya dengan
mereka saat pertama kali datang kemari. Giog anhigga?” Aku hanya mengangguk. Mereka
orang baru. Apakah karena itu juga mereka
memandang aneh ke arahku saat aku datang tadi? Sama seperti aku memandang trio
coordy nuna yang sebelumnya saat mereka juga baru bergabung. Ternyata rasanya
sangat tidak enak. Aku berjanji tidak akn melakukannya lagi.
“Jeongmal, bogosipeosoyo.” Aku
menerawang, mengingat tempat yang telah kujajaki selama dua tahun sebelum aku
meninggalkan mereka awal musim panas tahun lalu. Aku yang sering tidur di pojok
ruang ini sambil memandangi gemerlap malam wilayah Seoul. Aku yang dengan suka
hati mengelap daesang mereka satu persatu dari debu. Aku yang dengan diam-diam
mendengarkan hyeongdeul saling berkeluh kesah karena saat itu hangeug-ku masih
sangat terbatas. Aku.. merasa lenganku
tertarik kebelakang.
“Nolja!” teriak couple gila yang
tengah menyeretku menjauhi Siwon-ssi dan Kangin hyeong yang juga terkejut.
Fishy couple tidak pernah berhenti untuk membuatku terus bergerak. Mereka
berceloteh sambil memamerkan apa saja yang telah terlewat olehku selama aku
pergi.
“Hyeong, dia baru datang. Pasti
masih lelah. Lagi pula ini waktunya makan siang.” Ryeowuk hyeong mencegah duo
ini menyeretku keluar dorm. Dua hyeong-Bocah ini ingin menunjukan sesuatu di
dorm lantai atas. “Nabi-ya, neoneun baegoppa anigga?” ia tersenyum manis ke
arahku.
“Ne, hyeong. Hyeong masak apa?
Sudah selesai? Mogja.” Aku lalu menguntitnya yang berjalan ke dapur,
meninggalkan dua badut di depan pintu yang berwajah muram.
-_-‘)
“Nabi-ya, kau tidak merindukanku?”
ucap pemilik suara indah yang kini sudah ada di depanku dengan bibir mencebik.
Mengapa hari ini orang bertanya seolah aku tidak pernah menganggap mereka
berarti untukku? Aku melirik kesal Yeseong hyeong yang mendatangiku saat aku
baru selesai membersihkan diri.
“Kau tahu aku merindukanmu,
hyeong. Lama kita tidak berkaraoke dan menarikan ajumma dance bersama. Kau
benar-benar hebat dalam hal itu.” Aku hanya menjawab seadanya karena kini aku
sedang sibuk membantu mengelap piring.
“Aku sekarang jauh lebih baik
dari itu. Kau tahu waltz? Aku bisa waltz. Kau mau berdansa denganku?” tawarnya
sambil menyandarkan badan ke lemari pendingin dengan pose ’penuh percaya
diri’-nya, siku sebagai tumpuan dan tangan satunya yang membenahi tatanan
rambut.
“Aku mau kalau berdansa dengan
yeoja.” Aku memandangnya sarkastis. Laki-laki mana yang mau berdansa dengan
laki-laki lain di dapur? Aku sedang menjadi laki-laki, ingat? Lagipula, tidak
mungkin aku menarikan bagian peremuan saat sedang menjadi laki-laki. Itu akan terlihat
sangat absurd.
“Aku bisa gerakan yeoja juga,”
ucapnya yang langsung mendapatkan pandangan ngeri dariku. Sebegitu inginnya ia
menjadi hebat dalam hal lain selain bernyanyi. Waltz? Ia benar-benar persisten.
“Kau mau berdansa denganku, Tuan?” Ia mengangkat ujung celana kain selututnya
bagai gaun, yang membuatku langsung kehilangan selera berbicara dengannya.
“Maaf, saya tidak menerima yeoja
jadi-jadian,” kataku sambil berlalu. Dekat-dekat dengan Yeseong hyeong di saat
show up mood-nya bekerja adalah saat yang membahayakan.
“Ya! Nabi-ya. Jinjja..” Runtukannya
terputus oleh sodoran piring dari Ryeowuk hyeong.
“Hyeong, bantu aku meletakkan ini
di meja. Kau tidak membantu menyiapkan tempat, malah bermain-main dan
mengganggu Nabi.” Aku memandang Ryeowuk hyeong takjub. Hyeong yang kuanggap
lembut ini mampu berkata tegas seperti itu dan berhasil membuat Yeseong hyeong
menyerah. Setelah Yeseong hyeong meninggalkan kami, Ryeowuk hyeong memberiku
kode untuk mengikutinya ke dekat kompor yang berisi panci-panci mengepul. Jadi
kuikuti Ryeowuk hyeong dengan beberapa piring di tanganku.
“Nabi-ya. Kau benar-benar harus
makan. Apa yang kumasak hari ini bukan makanan yang patut kau hindari. Araseo?”
tegas sosok yang juga dikenal sebagai eternal magnae ini. Wajah imutnya berubah
kaku, mengingatkanku saat dulu pernah menolak masakannya. Koki keluarga yang
satu ini akan merasa dihargai bila orang lain menikmati hasil karyanya dan
bersedih bila ada seseorang yang tidak menyentuhnya.
Aku mengangguk yakin. Sudah lama
tidak mencicipi masakan rumah ala Ryeowuk hyeong membuatku rindu berat. Dan
lagi, ia paham soal makanan apa saja yang harus kuhindari. Hyeongku satu ini
memang sangat pengertian. Padahal sangat tidak mudah untuk memilih bahan
makanan yang sesuai standarku.
Aku menghitung-hitung jumlah
piring makanan aman yang tersedia untukku. “Lebih dari sepuluh piring. Hyeong
menyediakan begitu banyak makanan aman untukku. Apa hyeong tahu aku akan
datang?” tanyaku. Ada satu hal yang masih mengganjal pikiranku sampai saat ini.
Orang yang terkejut dan yang tidak terkejut oleh kedatanganku tidak seperti
yang aku bayangkan. Bahkan aku merasa ada yang telah mengaturnya.
“Ani. Seunghwan hyeong bilang
kami akan mengadakan pertemuan. Pastinya Dipta-ya juga ikut. Aku tahu ia tidak
bisa makan sembarangan, jadi aku sengaja menyiapkan semuanya,” jawabnya sambil
sesekali mengacungkan sendok sayur yang ia gunakan untuk mengaduk kimchi di
dalam panci.
“Dipta bisa makan sebanyak ini?
Jinjjayo. Perutnya semakin besar saja.” Ryeowuk hyeong terkekeh mendengar
celetukanku.
“Haha. Mana mungkin? Jelas tidak
hanya Dipta-ya yang makan. Kami semua juga ikut makan. Aku hanya membantunya
agar tidak perlu menahan diri untuk berebut makanan bersama kami.” Ryeowuk
hyeong lalu memindahkan beberapa sendok kimci ke mangkuk bulat yang ada di
hadapanku.
“Kalian seperti anak kecil saja.
Tidak bisa makan dengan tenang,” celaku yang kemudian disambung dengan derai
tawa kami berdua. Kata-kataku sangat lucu bagi kami, karena nyatanya aku adalah
salah satu pencetus perang saat di meja makan. “Kau menyiapkan semuanya
sendiri, hyeong?” tanyaku lagi. Kini aku sedang bertumpu pada lenganku di
tempat cuci piring, menunggu Ryeowuk hyeong mengisi piring selanjutnya.
”Ani. Tidak semua. Para asisten
nuna dan Jung ajumma yang memasak sebagian. Aku ada jadwal siang tadi. Jadi
tidak bisa membantu banyak.” Pernyataannya hanya ku balas denagn kata ‘o’ yang
panjang. “Jjang! Piring terakhir.” Ia
mengangsurkan piring besar berisi cah kailan dengan ohgyupsal yang beraroma
sedap. “Gaja,” lanjutnya saat melangkah ke area bising di ruang tengah.
Aku menerima sambutan yang luar
biasa. Maklum, makanan utamanya ada di tanganku. Selain itu perut kosong para
serigala ini pasti sudah minta diisi. Sorakan riuh rendah terdengar selama aku
memainkan piring di udara sebelum mendaratkannya di meja. Sesuatu yang selama
setahun ini tidak kutemukan. Akhir-akhir
ini aku makan ditemani piring, sendok, garpu, dan benda mati lainnya tanpa ada
yang mengajakku bicara. Jadi sekarang aku sangat menikmati keriuhan ini.
Awalnya aku tidak melihat Sang
Raja Iblis. Aku mengira ia terlalu terguncang bahkan untuk bergabung bersama
yang lain. Walau aku tidak tahu apa yang membuatya terguncang, kini melihatnya
telah bergabung di meja makan memberiku sedikit perasaan lega. Ternyata lawan sempurna
untuknya adalah lapar, walau sangat terlihat rasa enggan terpancar dari
matanya. Aku tahu itu karena aku tidak akan tertipu oleh seringaian dan
kelakuan jahilnya.
Tak lama, semua makanan habis
tanpa sisa dan acara makan kali ini ditutup dengan ucapana ‘masida’ berjamaah.
Tidak berhenti di situ, pergumulan berebut makanan dilanjutkan dengan debat
seputar tukang beres-beres karena kami tidak ingin memberati Jung ajumma,
wanita paruh baya yang membersihkan apartemen, dengan kehancuran total ruang
tengah yang tampak seperti bekas perang. Dan sebelum semua makin runyam, kami
memutuskan untuk menyelesaikannya dengan permainan kekanak-kanakan.
Ga-iwa-i-og.
-_-‘)
Sampai kapanpun, dimanapun, dalam
situasi apapun, menang atau kalah pun, owner atau guest pun, senang atau susah
pun, sehat atau sakit pun, aku akan selalu jadi pencuci piring. Biarlah para
lelaki yang mengepel dan menata kembali ruang tengah yang porak poranda seperti
pekas kerusuhan supporter sepak bola. Aku, yang sebenarnya perempuan, sajalah
yang membereskan tumpukan piring, mangkuk, dan gelas kotor yang telah berjajar
rapi di lantai bersama Jung ajumma.
“Chogiyo, bagaimana kabar Anda?
Rasanya sepi tanpa Anda yang biasanya menemani saya disini,” ungkap wanita yang
sedang giat menggosok bersamaku ini.
“Ye?” Aku baru sadar bahwa sejak
tadi aku belum menyapanya. Karena saat aku datang tadi, ajumma harus pulang dan
baru kembali ke apartemen saat acara hampir berakhir. “Eo, nan gwaenchanhayo,
ajumma. Bagaimana kabar Anda? Mereka tidak menjahilimu seperti biasa, bukan?”
“Nado, Nabi-ssi. Aniyo. Saya
bahkan sangat jarang bertemu dengan mereka,” jawabnya sambil menunduk. Aku
menangkap sedikit rasa kehilangan dari ajumma di depanku.
“Ye? Jarang bertemu?” Pikiranku
beralih pada urutan kegiatan yang mungkin hyeong-deul jalani. ‘Reality show?
Variety show? Siaran radio? Live concert? Interview majalah? Promo album?
Latihan? Shooting drama?’ Kucoba untuk menghubungkan kegiatan mana dengan siapa
dan menemukan hampir semua orang menjalani lebih dari satu macam kegiatan
setiap harinya. “Jung ajumma, apa mereka sangat sibuk akhir-akhir ini?”
“Sibuk? Mereka hampir tidak
pernah pulang.” Jung ajumma sedikit terkekeh miris. “Semua berangkat pagi-pagi
dan pulang lebih dari larut.”
“Eh?” Hanya itu yang terlontar dari
mulutku. Entah mengapa aksen Korean-ku yang selalu mendapat pujian hilang entah
kemana.
“Saya hanya sempat melihat
Donghae-ssi saat datang. Terkadang Ryeowuk-ssi dan Yeseong-ssi yang pulang
lebih awal bertemu dengan saya saat makan malam,” lanjutnya dengan suara yang
makin sendu.
“Jeongmalyo?” tanyaku lebih pada
diri sendiri. Jung ajumma mengangguk. Dan rasanya aku tahu alasan Teukie hyeong
mengirimiku e-mail yang sangat menyedihkan itu. “Lebih baik mereka membeli
caravan saja untuk tidur, dari pada harus menyewa apartemen mewah yang kosong
melompong. Itu jauh lebih murah dan hemat. Betul bukan ajumma?” runtukku,
membuat Jung ajumma tertawa.
“Anda ada-ada saja, Nabi-ssi.”
Kami tertawa bersama sebelum pikiranku berlari ke Gyuhyeon dan Seongmin hyeong.
Aku menjadi penasaran. Biasanya mereka berdua punya jadwal yang relatif sedikit
dari pada yang lainnya.
“Seongmin-ssi akan pulang seusai
latihan. Saya tidak tahu kapan, karena saya sudah pulang. Gyuhyeon-ssi…” Jung
ajumma menggantungkan kalimatnya.
“Gyuhyeon waeyo?” tanyaku tanpa
sadar. Mangkuk besar bekas kimchi yang sedang ku gosok segera kuletakkan
sebelum meluncur jatuh dari tanganku. Aku tidak dapat menghilangkan rasa
penasaranku pada Bocah Besar yang satu ini.
“Kudengar Gyuhyeon-ssi hampir
tidak pernah pulang.” Jung ajumma menunduk sedih.
“Pulang pagi berangkat pagi, geuchi?” Kuraih kembali mangkuk yang sempat kuletakkan
tadi. Dan segera saja kelebatan masa setahun silam setelah menangkap jawaban
membenarkan dari wanita paruh baya di sebelahku.
Satu tahun yang lalu, malam
sebelum aku tiba-tiba harus meninggalkan Korea. Suatu malam dimana aku
menetapkan pilihan untuk mengejar mimpiku yang lain, malam dimana aku
menapakkan kakiku pada dunia dewasaku. Sebuah keputusan buru-buru yang kuambil
tanpa memperdulikan pertanyaan seorang namja bernama Jo Gyuhyeon yang saat itu
kuanggap tidak penting. Waktu terakhir kami berdua menikmati malam dengan wine
dan sebuah cerita tentang Batas Langit. Jawaban yang membingungkan dari
pertanyaannya tentang manusia dan kehilangan. Tentang bayangan mereka yang
masih membelit pikiran.
“Neon gwaenchanha, Nabi-ssi? Anda
melamun.” Ucapan Jung ajumma menarikku ke realita.
“Ah. Ye, ajumma. Bisa minta
tolong ambilkan sabunnya?” Aku tersenyum miris. Apa ada sesuatu yang buruk akan
terjadi? Aku menlanjutkan gosokanku pada mangkuk lalu membilasnya. ‘Andai saja
menyelesaikan semua masalah ini semudah mencuci semua benda pecah belah yang
ada di hadapanku,’ batinku kelu.
-_-‘)
Aku menarik nafas sejenak. Ruang
tengah kembali bersih, tumpukan alat makan yang kotor kembali mengkilat,
peralatan masak tertata rapi di almari, dan sebagian orang telah kembali ke
peraduan masing-masing. Tinggal para hyeong penghuni lantai atas, Seongmin
hyeong yang sedikit mabuk, Dipta yang terkantuk-kantuk, dan tentu saja aku yang
masih setia menuangkan soju ke masing-masing gelas. Aku menatap botol hijau di
tanganku. Ikut menikmati cairan bening yang membuat pikiran melayang? Sayangnya
tidak. Aku lebih memilih cairan merah yang pernah disodorkan Si Magnae kepadaku
satu tahun yang lalu. Tapi Pria itu sudah berkubang di kamar sejak selesai
membersihkan ruang tengah. Apa ia menghindariku?
“Ah. Ini sudah hampir pagi.”
Teuki hyeong meletakkan gelasnya dengan hentakan yang cukup keras. Aku yakin ia
sudah mabuk namun masih memiliki kesadarannya. “Gaja. Kita kembali. Sudah
waktunya tidur.” Ia bangkit lalu menarik Huicheol hyeong yang sudah hampir
tidak sadar.
“Teuki, neo..” racau Huicheol
hyeong, orang yang mungkin lebih kuanggap sebagai eonni dari pada oppa itu.
“neo, jjinja..” Aku tak lagi mampu mengartikan
perkataan Huicheol hyeong selanjutnya. Yang aku tahu Teuki hyeong hanya
mengangguk dan menjawab pasrah kata apa saja yang keluar dari mulut pemilik
kucing ungu itu.
Hae hyeong bahu-membahu dengan
Shindong hyeong untuk memapah Kangin hyeong yang terlihat ingin menelan
seseorang. “Kau mau ikut kami ke atas, Nabi-ya?” ucap Hae hyeong sambil memakai
sandal di ambang pintu. Ke lantai dua belas? Sepertinya boleh juga.
Di sela obrolan hyeong-deul
tentang undangan Donghae hyeong, aku memandang Dipta penuh manja, berharap ia mengijinkanku
untuk pergi ke apartemen lantai atas. “Dipta-ya.”Dan ia harus ikut denganku,
tentunya. Aku masih membutuhkan telunjuknya untuk masuk kembali ke apartemen
lantai sebelas. Jangan tanya mengapa aku menolak untuk menginap di lantai dua
belas. Siapapun tak akan mau bertahan semalam pun bila disuguhi pemandangan
‘abs ajeossi-deul’. Kecuali mereka yang cukup pervert, pasti akan bertahan berlama-lama
saat melihat mereka keluar masuk kamar mandi dengan penutup yang sangat minim.
Back to reality, Dipta yang baru
saja mengantar Seongmin hyeong ke kamar memandangku seram. Ia seperti
mempertanyakan kewarasanku. Tapi pada akhirnya hanya mendesah lalu membantu
Teuki hyeong yang merangkul Huicheol hyeong. Sepertinya aku menang lagi. Dan
sebuah senyum puasku terkembang tanpa diketahui enam namja yang berjalan
terseok di depanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar