Rabu, 05 Desember 2012

Batas Langit


Name : ru_phee3
Title : Batas Langit
Cast(s) : Lisha (Nabi), Dipta, GyuHyeon, Seongmin, and other Super Junior’s members, also Seunghwan manager, with three other ocs
Genre : Family, Angst(?)
Rating : General
Length : Series
Author's Note : The two casts are mine.. Super Junior member’s are not mine.. The story is mine.. Not the real one, but made up from one.. I hope no bashing, but critics are valuable, as worth as gold.. enjoy.! n_n


“Hyeong!” Aku berlari ke pelukan Seunghwan hyeong setelah melewati gerbang kedatangan luar negeri. Dengan memeluk orang Korea pertama yang kutemui, setelah lebih dari dua belas bulan mataku dipenuhi oleh sosok-sosok jangkung berkulit putih berlidah cadel di kota yang disebut London, ada satu rasa sakit yang seketika terbebas. Aku merasa segar karena kali ini aku juga disambut oleh serbuan dingin angin musim gugur yang mulai berhembus di Incheon. Yakin, aku akan menjalani hari yang baik di sini.

Pelukan antar pria adalah sesuatu yang cepat, keras, dan disertai pukulan ringan di punggung. Sayangnya hal itu tidak kudapatkan kali ini. Si Prince Manager ini benar-benar mendekapku layaknya seorang  kekasih. Intens dan lama. Ia seperti tidak merasakan beberapa pandangan menghujam di punggungku, yang mungkin mengira aku mengidap kelainan psikologi tentang ketertarikan terhadap orang lain.

“Dipta-neun eodiseoyo?” tanyaku untuk menghilangkan rasa jengah juga sebagai cara untuk melepas rengkuhan posesifnya. Kenyataan bahwa ada dua orang lelaki berpelukan mesra di depan umum, dan aku adalah salah satunya, cukup untuk menenggelamkan seluruh pikiran positifku. Apakah ini pertanda hari-hari berikutnya aku akan mendapat masalah?

Di suatu tempat dan waktu yang lain, saat aku kembali ke kehidupan yang kuanggap nyata, menerima perlakuan seperti ini dari seorang pria adalah hal yang biasa. Tapi tidak saat aku sedang berpakaian ala lelaki, menggunakan nama Park Nam Bin, dan berlaga layaknya seorang bocah dalam masa pencarian jati diri. Aku masih merasa desiran perasaan feminin di bawah nama Lishany Ayu yang sayangnya harus kusembunyikan rapat-rapat. Setidaknya sampai apa yang dulu kumulai telah mencapai garis akhir.

“Dipta? Obseo. Kau tidak suka kalau aku yang menjemputmu? Kau tidak menyayangiku, rupanya.” Ia melepaskan pelukannya. Menyayanginya? Kata apa yang baru saja diucapkannya? Ia membuatku bergidik ngeri. Dengan ekspresi kesal, ia menghadapkan wajahku ke wajahnya. “Dan berhentilah memanggilku ‘hyeong’. Neoga yeojainde. Oppa. Panggil aku oppa,” titahnya.

“Eh?” gumamku, terkejut. Dalam hati aku mengumpati nasibku yang sedang sial. Rahasiaku terbongkar. Ini adalah awal dari hari-hari buruk yang akan datang menyiksaku.

“Aku sudah tahu. Kogjeongma. Yang lain belum tahu apapun,” jawabnya saat menyadari raut panikku.

“O.. oppa,” ucapku, mencoba panggilan baru untuknya. Rasanya ingin muntah saat ini juga. Di otakku muncul bayangan yang tidak-tidak tentang seorang gadis berpakaian sangat feminin memanggil kekasihnya dengan pipi yang merona. ‘Oh no!’ Aku ingin sekali menggali lubang dan menguburkan diriku saat ini juga.

Matda. Eodde? Lebih enak didengar?” Orang di hadapanku itu menaikkan sebelah alisnya, tak lupa cengiran bahagianya. Tidakkah ia melihat mukaku yang pucat pasi? Aku hampir mati menahan malu dan ia menikmatinya? Aku benar-benar butuh pintu kemana saja milik Doraemon sekarang.

“Ne,” jawabku sambil memaksakan sebuah senyum. Walau bagaimanapun masih ada rasa tidak percaya di pikiranku. Tanpa perlawanan yang berarti, aku mengikuti kemauan pemilik wajah manis di depanku. ‘What for?!’ bentakku tanpa suara ataupun gerak bibir.

“Gaja. Yang lain sudah menunggu.” Pria yang jauh lebih jangkung dariku ini menggiringku keluar, menuju tempat parkir.

-_-‘)

“Jadi ada masalah apa, sampai-sampai Teuki hyeong mengirimiku e-mail menyedihkan seperti itu?” tanyaku setelah mobil yang kami tumpangi mulai membelah jalanan. Duduk diam di dalam mobil dengan pendingin yang berhembus tepat di muka membuatku cepat tertidur. Masalahnya adalah aku tidak yakin akan tidur dengan tenang. Aku memiliki riwayat memalukan saat jatuh tertidur. Jadi kuputuskan untuk membuka obrolan ringan –sedikit berat, sepertinya- dengan Seunghwan hyeong yang tengah menyetir.

“Kau yakin akan membahasnya sekarang? Masalah ini terlalu berat untukmu yang sedang terkena jet lag,” jawabnya, tanpa melirikku sedikitpun. Si Prince Manager ini sama seperti orang Korea lainnya -selalu fokus saat berada di balik kemudi, yang artinya tidak mungkin diganggu. Selain itu dari mana ia tahu masalah jet lag yang selalu menyerangku setiap turun dari pesawat? Atau itu hanya alasan saja agar aku tidak mengganggu kegiatannya?

“Eung. Araseoyo. Aku hanya akan bertanya satu hal. Hy.., maksudku oppa, akan membawaku kemana? Mencari penginapan dulu atau langsung ke apartemen mereka?” Aku nyaris salah ucap. Manager yang sedang nge-top ini telah memerintahkanku untuk memanggilnya ‘oppa’ atau aku akan mendapatkan ciuman gratis darinya. Sayangnya aku tidak rela menyerahkan bibirku pada sembarang orang.

“Kita langsung saja. Bukankah kau tidak punya waktu banyak? Hanya beberapa hari, geuchi? Tinggal saja bersama mereka,” ujarnya masih tetap menatap ke depan. “Eodde?” lanjutnya sambil melirikku sepersekian detik. ‘Mereka’-lah yang menjadi tujuanku untuk datang ke Negeri Ginseng ini. Apa aku di posisi untuk menolak?

“Araseoyo, oppa,” jawabku. Akhirnya kuputuskan untuk diam hingga tempat tujuan karena tidak ada kesempatan untuk bercakap-cakap bila lawan bicaramu sedang menyetir.
Dalam pikiranku aku bersyukur saat ia memutuskan untuk tidak mengantarku mencari penginapan., karena aku memang sudah memiliki tempat tinggal tetap yang memang sangat kurahasiakan. Tidak mungkin bukan, aku merelakan lembaran won berhargaku untuk menyewa kamar hotel demi sebuah rahasia? Aku cukup pelit untuk masalah yang satu itu.

-_-‘)

“Oppa, jamsimanyo,” kutarik lengan Seunghwan hyeong sebelum ia sempat menyentuh kotak sensor di pintu, membuatnya segera membalikkan badan ke arahku.

“Wae saeng-a?” tanyanya dengan ekspresi yang hangat. Kelakuannya yang memperhatikanku selayaknya wanita membuatku bedebar. Ia berpotensi sebagai penghancur rencanaku. ‘Aku lelaki, aku lelaki,’ hipnotisku pada diri sendiri.

“Eung.. Aku akan memanggilmu hyeong selama ada mereka.” Aku menunduk malu sambil menunjuk ke arah pintu. Sangat tidak enak sebenarnya, membuat orang lain ikut berbohong demi drama konyol yang sedang kujalani. Harusnya cukup seorang saja yang kulibatkan dalam urusan ini, dan itu bukan dirinya.

“Ara.” Ia masih tersenyum sambil menepuk kepalaku, membuatku salah tingkah.

‘Seunghwan oppa, jangan membuatku jatuh cinta. Aku sudah ada yang punya!’ teriakku dalam hati, tak lupa dengan beberapa umpatan sebagai tambahan.

“Ya! Apa yang kau lakukan di depan pintu, hyeong? Cepatlah masuk! Semua sudah ada di dalam. Tak tahukah kau, kami masih ada jadwal setelah ini?” Gyuhyeon, muncul dari balik pintu dengan muka bersungut-sungut, mengejutkan kami berdua yang tengah berdiri membelakangi pintu. Pria berkulit pucat ini adalah salah satu dari ‘mereka’.

Sejenak, wajah Seunghwan oppa berubah datar. “Tak tahukah kau, semua jadwal kalian telah dikosongkan sampai besok lusa?” balasnya dengan nada yang sama kasarnya saat lewat di hadapan Gyuhyeon. “Na wasseo.” Terdengar suaranya yang telah sampai ke dalam diikuti celotehan sebagai jawaban dari salam singkatnya.

Sedangkan Gyuhyeon masih tertinggal di ambang pintu dengan raut yang membeku. Tak lama kemudian, ia berjalan masuk sambil menutup pintu dengan kaki. Sebuah geraman kesal terdengar sebelum balok kayu tebal itu mengayun tertutup tepat di depan hidungku.

“Damn you Jo Gyuhyeon!” umpatku ke arah pintu karena pria berjiwa usil itu hampir menghantamkan pintu ke mukaku. Dan bagaimana mungkin gadis cantik sepertiku ditinggalkan begitu saja di luar? Bahkan tanganku yang tadi ingin memeluknya masih mengambang di udara. Ingin rasanya melemparkan sekarung batu bata ke kepala jeniusnya itu.

‘Mungkin sesuatu telah terjadi pada Pria Busuk itu. Penyakit evil-nya sudah semakin parah.’ Aku tersentak. ‘Apa aku tadi berkeinginan untuk memeluk seorang Cho Gyuhyeon layaknya seorang gadis sekolahan bertemu idolanya? Aku bahkan bukan penggemar fanatiknya!’ Batinku bertanya-tanya tentang sebuah kegilaan yang sempat terlintas di kepalaku. Padahal aku harus menjadi lelaki sampai beberapa hari ke depan di hadapan semua orang. Aku sadar rencana yang kubangun mulai goyah.

“Seunghwan oppa, kau nyaris membuatku mati gaya,“ runtukku sambil mengacak rambut. Ini pasti karena perlakuan Si Prince Manager padaku. Jadi, kupersiapkan diriku sebagai lelaki sebelum memasuki sarang para ajeossi serigala, ‘mereka’. Mulai dari gaya berdiri dan berjalan hingga suara dan nada bicara yang akan kugunakan. “Untung saja peranakan iblis itu tidak menyadarinya.”

Aku bercermin pada daun pintu yang mengkilat untuk terakhir kali sebelum menatap kotak sensor dalam-dalam. Pikiranku masih berputar pada keinginanku sebagai seorang wanita yang tiba-tiba bangkit  karena perlakuan Seunghwan oppa, lalu sebuah tuntutan sebagai sosok lelaki di hadapan yang lainnya. Tak ayal secercah rasa asam merambat naik ke tenggorokanku, menumbuhkan keraguan. ‘Sampai kapan aku akan terus begini? Sudah cukup lama aku bermain dengan takdir dan waktu,’ batinku sendu. Yang mampu aku lakukan saat ini hanyalah menyelesaikan apa yang telah aku mulai.

Lalu aku menyadari satu hal bodoh. Aku masih berada di luar dan terkunci. ‘Aku ingin masuk, tapi harus dengan cara yang keren,’ putusku.

“Bel atau sensor?” Aku mengguman sambil mengamati kotak berwarna hitam di hadapanku. Bel, berarti bertamu. Itu tidak mengejutkan. Sensor, aku masuk sendiri, muncul di antara ‘mereka’ secara mengejutkan. Itu keren. ‘Tapi apa masih bisa?’ Kutatap Telunjuk Sakti-ku yang dengan mudahnya membantuku keluar masuk ke dalam apartemen ‘mereka’, dulu. “Kurasa tidak ada salahnya mencoba peruntungan.” Kuarahkan telunjuk kananku ke atas benda yang langsung men-scan sidik jari. Semoga saja sekarang masih berfungsi.

“Bip!” Aku melengos kesal. Bunyi tadi menandakan sebuah penolakan. Apa mereka sudah menghapus dataku? Atau posisi jariku yang salah?

“Oh, my God.” Aku menggigit bibir bawahku dan mulai meletakkan telunjukku lagi ke permukaan dingin itu.

“Bip!” Rasanya sebal setelah bunyi penolakan itu terdengar setiap kali aku mencoba. Kata terbuang memang cocok untukku. Pada kenyataannya, ditilik dari manapun, akulah yang membuang diri. Akulah yang menjauh dari ‘mereka’. Lebih buruk lagi secara tiba-tiba.

“Argh! Bad sensor! Let me in, Stupid!” marahku pada kotak tak bersalah yang diam menempel di pintu. Kutundukkan kepalaku dalam kedukaan. Beberapa saat lagi gengsiku akan mati setelah ujung tanganku menempel di sebuah tombol bernama bel. Tapi entah mengapa nuraniku berkata untuk mencoba sekali lagi.

“Bip bip!” Aku segera mendongak setelah mendengar suara dari surga. Tanda pintu terbuka.

‘Thanks God. You’ve saved me from being thrown away. Dan harga diriku masih utuh.’ Didalam otakku, aku telah melompat-lompat dan bersalto ria.

“Iblis?” Sebentuk kepala muncul dari celah pintu yang terbuka. Suaranya sangat aku kenal.

“Setan.” Hanya satu kata itu yang keluar. Entah sudah seperti apa wajahku saat ini. Percampuran antara rasa terkejut, kerinduan, dan bahagia yang bertemu dengan rasa kesalnya tertipu dan lelah. Pemilik kepala itulah yang membuka pintu dari dalam. Bukan aku yang berhasil membuka pintu dari luar.

“Neo..”

“Setan!” teriakku yang langsung menghambur ke arahnya. Mendorong pintu hingga menjeplak terbuka demi mendapat pelukan hangat dari karibku yang lama tak berjumpa. “I miss you so much! Jeongmal bogosipeoseoyo!” racauku pada Setan-ku, seorang pria bernama Dipta yang kini memelukku dengan erat. Rasa rinduku yang terobati menghanguskan kata kesal yang sempat melayang-layang di kepalaku. Aku tidak akan merasa kesal padanya, karena hanya pada pria inilah aku menggantungkan segalanya, hidupku dan rahasiaku –tadinya.

“Babo! Kemana saja kau? Berbulan-bulan menghilang dan aku hanya menerima sebuah e-mail yang bahkan tidak tertuju padaku secara pribadi. Kau tahu betapa khawatirnya aku? Apa sekarang kau sedang kabur dari pria itu? Apa pria itu menyakitimu? Malhaebwa. Aku akan menghajarnya.” Cecar tanpa jeda menghujaniku setelah lepas dari rengkuhannya. Walau ia pria, hanya lengannya yang tak pernah kutolak kapanpun, dimanapun, dan seperti apapun situasinya.

“Araseoyo, Dipta-nim. Jweseonghamnida. I’ll give you regular reports next time. And I’m sorry for disappeared and made you worrying about me.” Aku memasang tampang sepolos  mungkin, berharap ia mau memaafkanku.

“Ne. Gwaenchanha. As long as nothing’s wrong about you, it’s okay for me.” Aku terlalu baik untuk tidak dimaafkan. “Hhh. Welcome home.” Ia memelukku sekali lagi lalu menarikku masuk ke ruang tengah dimana berpasang-pasang mata menatapku tak percaya.

“Nabi-ya!” seru ‘mereka’, yang beberapa saat terdiam, kemudian menghambur ke arahku yang bahkan belum sempat mengambil nafas untuk memberikan salam pertamaku. Sepertinya ‘mereka’ begitu merindukanku. Sampai-sampai aku merasa tulangku remuk karena pelukan mereka.

“Hyeongdeul! Kalian ingin membuatku mati tergencet, eo?!” teriakku di sela-sela usaha mencari oksigen. Bayangkan badanku yang kurus kering dihantam tubuh-tubuh penuh otot yang tidak hanya memberi pelukan ‘terlalu hangat’, tapi juga mengacak rambut, mencubit pipi, menjitak, dan hal-hal anarkis lainnya. Aku bahkan sudah tidak merasakan lantai di telapak kakiku. Tubuhku terangkat dengan sendirinya oleh desakan mereka.

“Bogosipeoseo!” Seongmin hyeong lebih dulu mengucapan salam sebelum mendaratkan pelukannya di atas dua Pelukan Gorilla milik Eunhyeok hyeong dan Donghae hyeong. Ia hanya mendapat senyum cerah dan anggukanku. Bagaimana aku dapat membalas salamnya bila untuk bernafas saja aku harus berusaha keras?

“Ya! Fishy Couple! Jangan memelukku terlalu kencang! Tenaga kalian terlalu kuat!” Aku berusaha mengusir empat lengan milik Eunhyeok hyeong dan Donghae hyeong yang tengah membungkus tubuhku tanpa hasil yang berarti. Aku bahkan tidak dapat menjawab salam Seongmin hyeong dengan benar.

“Jeongmal bogosipeoseo!” ucap Eunhyeok hyeong tanpa ada tanda-tanda akan melepas dekapannya. Begitu juga Donghae hyeong.

“Yeseong hyeong! Hentikan! Pipiku sudah sakit!” Kugeleng-gelengkan kepalaku berusaha lepas dari cubitan gemasnya. Aku yakin setelah ini pipiku akan menggelambir beberapa senti. “Ah! Ajeossi tua! Sampai kapan kau akan mengacak-acak rambutku?”

“Aku masih terlalu muda untuk di panggil ajeossi, aema!” Eeteuk hyeong, orang terakhir yang kuprotes balik membentakku walau masih dengan tawa gembiranya.

“Appo!” teriakku keras-keras hingga akhirnya mereka membebaskanku dengan wajah tidak rela.

“Mianhae,” ucap Seongmin hyeong dengan Wajah-Imut-Tanpa-Dosa miliknya lalu memberikanku pelukan ringan.

“Gwaenchanhayo, hyeong.” Aku membalas pelukannya.

“Nabi-ya, mianhae.” Ucap Fishy Couple sambil bersiap untuk memelukku lagi.

“Hajimayo!” seruku sebelum ada lebam yang muncul berkat dua orang hiperaktif itu.

“Hehehe,” tawa mereka dan tetap memelukku. Beruntung kali ini cukup ‘tanpa tenaga’ untuk tidak membunuhku.

“Teuki hyeong! Bogosipeoseoyo.” Aku membalas juga rengkuhannya yang sedikit erat. Eeteuk hyeong, Sang Leader dari sekelompok dongsaeng gila ini tampak terenyuh.

“Na do,” jawabnya sambil menyusut air mata dengan jari, membuatku tersenyum geli.
Ingat kata-kataku tadi yang hanya menerima perlakuan dari Dipta? Ternyata aku juga menikmati perlakuan dari para pria tampan ini. Hey, mereka ‘hyeong’-ku. Salahkan aku sebagai ‘saeng’ mereka mendapat perlakuan seperti itu?

“Annyeong haseyo, yeorobun. Jeoneun Park Nam Bin-imnida. Manaseo bangabseumnida.” Kusapa seluruh orang yang ada di dalam ruangan. Semua anggota Boyband Super Junior, para manager hyeong -juga para asisten mereka-, dan para coordy nuna membalas salamku secara serempak.

Tak terasa sudah lebih dari satu tahun aku meninggalkan mereka, Super Junior. Tampaknya tidak ada yang terlalu berubah. Walau ada beberapa pengecualian, seperti beberapa nuna yang duduk di sudut ruangan. Mungkin mereka coordy nuna-deul yang baru, karena tidak kulihat tiga coordy nuna yang biasa muncul. ‘Biasa? Aku sudah menghilang cukup lama. Tidak heran trio nuna-deul itu tidak lagi bersama Super Junior,’ cemoohku pada diri sendiri.

“Ada acara apa semua berkumpul di sini?” Aku menyodok rusuk Eeteuk hyeong yang sejak tadi berdiri di sampingku.

“Ada gathering sebelum individual schedule. Setelah ini kami akan meluncurkan album baru. Ja. Selamat datang, Nabi-ya. Yeorobun, gaja, kita siapkan mejanya.” Leader satu ini mulai mengkomando semua orang. Entah kapan kebiasaan memerintahnya yang satu itu akan sembuh.

Saat semua orang menyebar ke seluruh penjuru apartemen, aku memilih berdiri di hadapan Gyuhyeon, Si Magnae Gila yang tampak tertegun di ujung sofa. “Kau tidak mau memberi ucapan selamat datang padaku, Gyu? Dan terima kasih untuk hampir menciumku dengan pintu.”

“Eo?” Pria Bocah itu tersadar dan langsung saja memasang tampang acuh. “Welcome to our dormitory,” jawabnya singkat sebelum bangkit dan berjalan pergi entah kemana.

“What the hell is..” ucapanku berhenti begitu saja saat pandanganku jatuh pada Huicheol hyeong yang tengah menggendong Huibeom, kucingnya. Mungkin karena rautku yang berubah kaku, ia terkikik geli.

“Ara, ara” Ia menurunkan kucing berwarna deep purple itu lalu merentangkan lengan. “Neo wasseo, uri Nabi. Nappeun aema. Kau menghilang. Tidak ada yang mampu menakhlukkan makhluk buas itu.” Hyeongku yang paling cantik ini merajuk saat merengkuhku. Ia pasti sudah menyerah atas sikap usil seorang Jo Gyuhyeon. Aku mampu menakhlukkan peranakan iblis itu? Mungkin. Apa aku bangga? Sangat!

“Araseoyo, hyeong. Mianhaeyo,” jawabku sambil tersenyum. Betapa aku merindukan wajah cantik yang jauh lebih menarik dariku ini. Hyeong yang selalu berbagi denganku. Atau oppa? Hey, di antara mereka semua, aku mengenalnya lebih dulu, dalam kondisi wanita tulen.

“Nabi-ya. How are you today?” Suara Shindong   yeong menginterupsi pembicaraan lewat mataku dengan Huicheol hyeong. Pronunciation-nya yang cukup amburadul membuatku tergelak.

“Nan gwaenchanhayo, hyeong,” ucapku. “Pipimu menghilang!” seruku yang kemudian memperoleh pertunjukan ‘perut sedikit lemak’ olehnya. “Tapi tetap saja. Jangan terlalu bersemangat saat memelukku, hyeong. Lenganmu masih sama besarnya dengan pahaku.” Aku melingkarkan jari-jariku ke lengan atasnya, lalu ke pahaku sendiri. “Hyeong lihat? Untung saja hyeong tidak ikut group hug tadi.” Shindong hyeong tergelak. Bahkan Huicheol hyeong tertawa keras atas ledekanku. Pria ajumma satu itu memang suka bila seseorang sedang ditindas.

“Ya! Pasti kau sekarang sudah berada dalam perjalanan  ke rumah sakit karena patah tulang,” gurau Shindong hyeong sambil menepuk kepalaku. Dalam bayanganku aku duduk bersama Ibu Peri Cantik di Batas Langit untuk menunggu Dipta datang. Aku menggeleng, menghilangkan pikiran konyolku yang kuharap akan terjadi berpuluh-puluh tahun dari hari ini.

“Hyeong, bayar lima ribu won karena menyentuh kepalaku.” Kupasang ekspresi datar yang langsung mendapat tepukan dasyat di bahuku.

“Penyakitmu dan penyakit Dipta yang satu itu harus dihilangkan!” marahnya yang membuatku langsung berlari ke tempat Siwon-ssi berdiri, meninggalkan tubuh tambun itu berteriak-teriak gemas dengan Huicheol hyeong yang pastinya terpingkal-pingkal atas percakapan terakhir. Saat kulirik lagi, mereka sedang ber-gossip tentang kelakuan ajaib dua orang terdekat mereka yang sama-sama berasal dari Indonesia. Siapa lagi kalau bukan Dipta dan aku?

“Annyeong, Siwon-ssi.” Aku membungkuk di depan pemilik tubuh terseksi di antara semua orang yang ada di ruangan ini. Entah mengapa aku tidak pernah bisa memanggilnya dengan sebutan sayang seperti pada yang lain. Mungkin kesan manly yang ada padanya membuatku segan untuk berbuat gila di depannya. Padahal, kadar kekonyolannya se-level dengan Duo Fishy, pasangan Eunhyeok hyeong dan Donghae hyeong.

“Annyeong, Nabi-ya.” Ia menepuk kepalaku sekilas. “Long time no see,” tambahnya dengan senyum yang menggiurkan. ‘Sial,’ umpatku dalam hati. Mengapa aku merasa banyak orang yang memperlakukanku seperti adik perempuan kecil mereka hari ini? Hey, I’m a man right now! Aku melambai-lambai konyol dalam pikiranku.

“Yup. Did I missed a lot of things?” Berbicara menggunakan Bahasa Inggris dengannya memang lebih menyenangkan. Aku tak perlu berpikir keras untuk mengatakan sesuatu karena kami sama-sama memahami bahasa internasional yang satu ini.

“I guess so. Have you ever met those three nunas?” tanyanya sambil menunjuk tiga orang yang sedang berdiri di dekat jendela sedang mengagumi tanda penghargaan yang sengaja dipajang di sana.

“Nope. Who are they? Coordy nuna-deul?” tebakku. Pria manis ini mengangguk.

“Let me introduce them.” Ia lalu berjalan ke arah mereka. “Nuna-deul, Nabi-ga. Nabi-ya, this is Hyera nuna, Sunbin nuna. Igeo, Cheol.. cheol..” Siwon-sii menunjuk mereka satu persatu dan berhenti pada wanita terakhir. Ia lupa siapa namanya.

“Cheol aniya.” Nuna yang sedang ditunjuk protes. Ia lalu menyalamiku sambil tersenyum,“ Hi, my name is Caeri.” Kata-kata perkenalannya membuatku membelalakkan mata. Hey, ia bisa berbahasa Inggris dengan 
pronunciation yang tepat.

“She was working at Korean embassy for Swiss.” Dalam otakku langsung muncul lampu pijar yang menyala terang. Penjelasan Siwon-ssi segera saja  menghilangkan kerut di alisku.

“Do you speak Hangeug?” tanya wanita yang tampaknya berumur lebih dari tiga puluh lima tahun ini.

“Ne, waeyo, nuna?” tanyaku balik.

“Omona, kau bahkan memiliki aksen seperti orang Korea asli.” Aku hanya tersenyum menanggapi tiga nuna dihadapanku ini. “Dan mengapa mereka memanggilmu ‘butterfly’, Nabi? Bukan Nam Bin?” tambahnya dengan wajah yang tampak berpikir keras.

“Aku memang pernah tinggal di Korea,” jawabku lalu menoleh ke arah jendela. “Kalau nama, tanyakan pada hyeong-deul”

“Eo?” Secara serentak tiga kepala melayangkan tatapan penuh tanya pada Siwon-ssi.

“Ceritanya panjang.” Hanya itu jawaban yang mereka terima dari Korean Idol di sebelahku ini. Jelas semakin membuat mereka penasaran dan terjadilah hal yang telah diperkirakan, Siwon-ssi menjelaskan panjang lebar kekonyolan yang pernah terjadi di antara kami.

Untukku yang telah mendengar kebodohan itu berkali-kali, sudah pasti terasa membosankan. Entah mengapa mereka masih suka sekali menceritakannya? “Daesang. Makin banyak.” Aku tersenyum di tengah gumamanku. Berdiri di dekat daesang yang ditata rapi membuatku terlempar ke masa lalu.

“Ne. Aku tidak pernah menyangka daesang yang mereka punya ada sebanyak ini.” Chaeri nuna memandang jajaran benda-benda di jendela dengan takjub.

Kini aku yang takjub oleh kelakuan mereka. Bukankah sudah banyak sejak dulu? Jelas selama satu tahun ini semakin bertambah, tapi jumlah daesang yang mereka miliki memang banyak.

Siwon-ssi terkekeh, membuatku yang semula memandang heran tiga orang di hadapanku, menoleh heran ke arahnya.

“Mereka baru bekerja tiga bulan terakhir. Jadi mereka masih seperti itu.” Kangin hyeong menepuk kepalaku.

“Hyeong,” Aku memeluknya sekejap. “Bayar lima ribu won,” tambahku yang disambut raut ‘hollow’-nya. Setelah diperhatikan, badannya mengimpor lemak lebih banyak dari satu tahun yang lalu. Apa Shindong hyeong memindahkan lemaknya ke tubuh Kangin hyeong?

“Kau juga sama anehnya dengan mereka saat pertama kali datang kemari. Giog anhigga?” Aku hanya mengangguk. Mereka orang baru.  Apakah karena itu juga mereka memandang aneh ke arahku saat aku datang tadi? Sama seperti aku memandang trio coordy nuna yang sebelumnya saat mereka juga baru bergabung. Ternyata rasanya sangat tidak enak. Aku berjanji tidak akn melakukannya lagi.

“Jeongmal, bogosipeosoyo.” Aku menerawang, mengingat tempat yang telah kujajaki selama dua tahun sebelum aku meninggalkan mereka awal musim panas tahun lalu. Aku yang sering tidur di pojok ruang ini sambil memandangi gemerlap malam wilayah Seoul. Aku yang dengan suka hati mengelap daesang mereka satu persatu dari debu. Aku yang dengan diam-diam mendengarkan hyeongdeul saling berkeluh kesah karena saat itu hangeug-ku masih sangat terbatas.  Aku.. merasa lenganku tertarik kebelakang.

“Nolja!” teriak couple gila yang tengah menyeretku menjauhi Siwon-ssi dan Kangin hyeong yang juga terkejut. Fishy couple tidak pernah berhenti untuk membuatku terus bergerak. Mereka berceloteh sambil memamerkan apa saja yang telah terlewat olehku selama aku pergi.

“Hyeong, dia baru datang. Pasti masih lelah. Lagi pula ini waktunya makan siang.” Ryeowuk hyeong mencegah duo ini menyeretku keluar dorm. Dua hyeong-Bocah ini ingin menunjukan sesuatu di dorm lantai atas. “Nabi-ya, neoneun baegoppa anigga?” ia tersenyum manis ke arahku.

“Ne, hyeong. Hyeong masak apa? Sudah selesai? Mogja.” Aku lalu menguntitnya yang berjalan ke dapur, meninggalkan dua badut di depan pintu yang berwajah muram.

-_-‘)

“Nabi-ya, kau tidak merindukanku?” ucap pemilik suara indah yang kini sudah ada di depanku dengan bibir mencebik. Mengapa hari ini orang bertanya seolah aku tidak pernah menganggap mereka berarti untukku? Aku melirik kesal Yeseong hyeong yang mendatangiku saat aku baru selesai membersihkan diri.

“Kau tahu aku merindukanmu, hyeong. Lama kita tidak berkaraoke dan menarikan ajumma dance bersama. Kau benar-benar hebat dalam hal itu.” Aku hanya menjawab seadanya karena kini aku sedang sibuk membantu mengelap piring.

“Aku sekarang jauh lebih baik dari itu. Kau tahu waltz? Aku bisa waltz. Kau mau berdansa denganku?” tawarnya sambil menyandarkan badan ke lemari pendingin dengan pose ’penuh percaya diri’-nya, siku sebagai tumpuan dan tangan satunya yang membenahi tatanan rambut.

“Aku mau kalau berdansa dengan yeoja.” Aku memandangnya sarkastis. Laki-laki mana yang mau berdansa dengan laki-laki lain di dapur? Aku sedang menjadi laki-laki, ingat? Lagipula, tidak mungkin aku menarikan bagian peremuan saat sedang menjadi laki-laki. Itu akan terlihat sangat absurd.

“Aku bisa gerakan yeoja juga,” ucapnya yang langsung mendapatkan pandangan ngeri dariku. Sebegitu inginnya ia menjadi hebat dalam hal lain selain bernyanyi. Waltz? Ia benar-benar persisten. “Kau mau berdansa denganku, Tuan?” Ia mengangkat ujung celana kain selututnya bagai gaun, yang membuatku langsung kehilangan selera berbicara dengannya.

“Maaf, saya tidak menerima yeoja jadi-jadian,” kataku sambil berlalu. Dekat-dekat dengan Yeseong hyeong di saat show up mood-nya bekerja adalah saat yang membahayakan.

“Ya! Nabi-ya. Jinjja..” Runtukannya terputus oleh sodoran piring dari Ryeowuk hyeong.

“Hyeong, bantu aku meletakkan ini di meja. Kau tidak membantu menyiapkan tempat, malah bermain-main dan mengganggu Nabi.” Aku memandang Ryeowuk hyeong takjub. Hyeong yang kuanggap lembut ini mampu berkata tegas seperti itu dan berhasil membuat Yeseong hyeong menyerah. Setelah Yeseong hyeong meninggalkan kami, Ryeowuk hyeong memberiku kode untuk mengikutinya ke dekat kompor yang berisi panci-panci mengepul. Jadi kuikuti Ryeowuk hyeong dengan beberapa piring di tanganku.

“Nabi-ya. Kau benar-benar harus makan. Apa yang kumasak hari ini bukan makanan yang patut kau hindari. Araseo?” tegas sosok yang juga dikenal sebagai eternal magnae ini. Wajah imutnya berubah kaku, mengingatkanku saat dulu pernah menolak masakannya. Koki keluarga yang satu ini akan merasa dihargai bila orang lain menikmati hasil karyanya dan bersedih bila ada seseorang yang tidak menyentuhnya.

Aku mengangguk yakin. Sudah lama tidak mencicipi masakan rumah ala Ryeowuk hyeong membuatku rindu berat. Dan lagi, ia paham soal makanan apa saja yang harus kuhindari. Hyeongku satu ini memang sangat pengertian. Padahal sangat tidak mudah untuk memilih bahan makanan yang sesuai standarku.

Aku menghitung-hitung jumlah piring makanan aman yang tersedia untukku. “Lebih dari sepuluh piring. Hyeong menyediakan begitu banyak makanan aman untukku. Apa hyeong tahu aku akan datang?” tanyaku. Ada satu hal yang masih mengganjal pikiranku sampai saat ini. Orang yang terkejut dan yang tidak terkejut oleh kedatanganku tidak seperti yang aku bayangkan. Bahkan aku merasa ada yang telah mengaturnya.

“Ani. Seunghwan hyeong bilang kami akan mengadakan pertemuan. Pastinya Dipta-ya juga ikut. Aku tahu ia tidak bisa makan sembarangan, jadi aku sengaja menyiapkan semuanya,” jawabnya sambil sesekali mengacungkan sendok sayur yang ia gunakan untuk mengaduk kimchi di dalam panci.

“Dipta bisa makan sebanyak ini? Jinjjayo. Perutnya semakin besar saja.” Ryeowuk hyeong terkekeh mendengar celetukanku.

“Haha. Mana mungkin? Jelas tidak hanya Dipta-ya yang makan. Kami semua juga ikut makan. Aku hanya membantunya agar tidak perlu menahan diri untuk berebut makanan bersama kami.” Ryeowuk hyeong lalu memindahkan beberapa sendok kimci ke mangkuk bulat yang ada di hadapanku.

“Kalian seperti anak kecil saja. Tidak bisa makan dengan tenang,” celaku yang kemudian disambung dengan derai tawa kami berdua. Kata-kataku sangat lucu bagi kami, karena nyatanya aku adalah salah satu pencetus perang saat di meja makan. “Kau menyiapkan semuanya sendiri, hyeong?” tanyaku lagi. Kini aku sedang bertumpu pada lenganku di tempat cuci piring, menunggu Ryeowuk hyeong mengisi piring selanjutnya.

”Ani. Tidak semua. Para asisten nuna dan Jung ajumma yang memasak sebagian. Aku ada jadwal siang tadi. Jadi tidak bisa membantu banyak.” Pernyataannya hanya ku balas denagn kata ‘o’ yang panjang. “Jjang! Piring terakhir.” Ia mengangsurkan piring besar berisi cah kailan dengan ohgyupsal yang beraroma sedap.   “Gaja,” lanjutnya saat melangkah ke area bising di ruang tengah.

Aku menerima sambutan yang luar biasa. Maklum, makanan utamanya ada di tanganku. Selain itu perut kosong para serigala ini pasti sudah minta diisi. Sorakan riuh rendah terdengar selama aku memainkan piring di udara sebelum mendaratkannya di meja. Sesuatu yang selama setahun ini  tidak kutemukan. Akhir-akhir ini aku makan ditemani piring, sendok, garpu, dan benda mati lainnya tanpa ada yang mengajakku bicara. Jadi sekarang aku sangat menikmati keriuhan ini.

Awalnya aku tidak melihat Sang Raja Iblis. Aku mengira ia terlalu terguncang bahkan untuk bergabung bersama yang lain. Walau aku tidak tahu apa yang membuatya terguncang, kini melihatnya telah bergabung di meja makan memberiku sedikit perasaan lega. Ternyata lawan sempurna untuknya adalah lapar, walau sangat terlihat rasa enggan terpancar dari matanya. Aku tahu itu karena aku tidak akan tertipu oleh seringaian dan kelakuan jahilnya.

Tak lama, semua makanan habis tanpa sisa dan acara makan kali ini ditutup dengan ucapana ‘masida’ berjamaah. Tidak berhenti di situ, pergumulan berebut makanan dilanjutkan dengan debat seputar tukang beres-beres karena kami tidak ingin memberati Jung ajumma, wanita paruh baya yang membersihkan apartemen, dengan kehancuran total ruang tengah yang tampak seperti bekas perang. Dan sebelum semua makin runyam, kami memutuskan untuk menyelesaikannya dengan permainan kekanak-kanakan. Ga-iwa-i-og.

-_-‘)

Sampai kapanpun, dimanapun, dalam situasi apapun, menang atau kalah pun, owner atau guest pun, senang atau susah pun, sehat atau sakit pun, aku akan selalu jadi pencuci piring. Biarlah para lelaki yang mengepel dan menata kembali ruang tengah yang porak poranda seperti pekas kerusuhan supporter sepak bola. Aku, yang sebenarnya perempuan, sajalah yang membereskan tumpukan piring, mangkuk, dan gelas kotor yang telah berjajar rapi di lantai bersama Jung ajumma.

“Chogiyo, bagaimana kabar Anda? Rasanya sepi tanpa Anda yang biasanya menemani saya disini,” ungkap wanita yang sedang giat menggosok bersamaku ini.

“Ye?” Aku baru sadar bahwa sejak tadi aku belum menyapanya. Karena saat aku datang tadi, ajumma harus pulang dan baru kembali ke apartemen saat acara hampir berakhir. “Eo, nan gwaenchanhayo, ajumma. Bagaimana kabar Anda? Mereka tidak menjahilimu seperti biasa, bukan?”

“Nado, Nabi-ssi. Aniyo. Saya bahkan sangat jarang bertemu dengan mereka,” jawabnya sambil menunduk. Aku menangkap sedikit rasa kehilangan dari ajumma di depanku.

“Ye? Jarang bertemu?” Pikiranku beralih pada urutan kegiatan yang mungkin hyeong-deul jalani. ‘Reality show? Variety show? Siaran radio? Live concert? Interview majalah? Promo album? Latihan? Shooting drama?’ Kucoba untuk menghubungkan kegiatan mana dengan siapa dan menemukan hampir semua orang menjalani lebih dari satu macam kegiatan setiap harinya. “Jung ajumma, apa mereka sangat sibuk akhir-akhir ini?”

“Sibuk? Mereka hampir tidak pernah pulang.” Jung ajumma sedikit terkekeh miris. “Semua berangkat pagi-pagi dan pulang lebih dari larut.”

“Eh?” Hanya itu yang terlontar dari mulutku. Entah mengapa aksen Korean-ku yang selalu mendapat pujian hilang entah kemana.

“Saya hanya sempat melihat Donghae-ssi saat datang. Terkadang Ryeowuk-ssi dan Yeseong-ssi yang pulang lebih awal bertemu dengan saya saat makan malam,” lanjutnya dengan suara yang makin sendu.

“Jeongmalyo?” tanyaku lebih pada diri sendiri. Jung ajumma mengangguk. Dan rasanya aku tahu alasan Teukie hyeong mengirimiku e-mail yang sangat menyedihkan itu. “Lebih baik mereka membeli caravan saja untuk tidur, dari pada harus menyewa apartemen mewah yang kosong melompong. Itu jauh lebih murah dan hemat. Betul bukan ajumma?” runtukku, membuat Jung ajumma tertawa.

“Anda ada-ada saja, Nabi-ssi.” Kami tertawa bersama sebelum pikiranku berlari ke Gyuhyeon dan Seongmin hyeong. Aku menjadi penasaran. Biasanya mereka berdua punya jadwal yang relatif sedikit dari pada yang lainnya.

“Seongmin-ssi akan pulang seusai latihan. Saya tidak tahu kapan, karena saya sudah pulang. Gyuhyeon-ssi…” Jung ajumma menggantungkan kalimatnya.

“Gyuhyeon waeyo?” tanyaku tanpa sadar. Mangkuk besar bekas kimchi yang sedang ku gosok segera kuletakkan sebelum meluncur jatuh dari tanganku. Aku tidak dapat menghilangkan rasa penasaranku pada Bocah Besar yang satu ini.

“Kudengar Gyuhyeon-ssi hampir tidak pernah pulang.” Jung ajumma menunduk sedih.

“Pulang pagi berangkat pagi, geuchi?” Kuraih kembali mangkuk yang sempat kuletakkan tadi. Dan segera saja kelebatan masa setahun silam setelah menangkap jawaban membenarkan dari wanita paruh baya di sebelahku.

Satu tahun yang lalu, malam sebelum aku tiba-tiba harus meninggalkan Korea. Suatu malam dimana aku menetapkan pilihan untuk mengejar mimpiku yang lain, malam dimana aku menapakkan kakiku pada dunia dewasaku. Sebuah keputusan buru-buru yang kuambil tanpa memperdulikan pertanyaan seorang namja bernama Jo Gyuhyeon yang saat itu kuanggap tidak penting. Waktu terakhir kami berdua menikmati malam dengan wine dan sebuah cerita tentang Batas Langit. Jawaban yang membingungkan dari pertanyaannya tentang manusia dan kehilangan. Tentang bayangan mereka yang masih membelit pikiran.

“Neon gwaenchanha, Nabi-ssi? Anda melamun.” Ucapan Jung ajumma menarikku ke realita.

“Ah. Ye, ajumma. Bisa minta tolong ambilkan sabunnya?” Aku tersenyum miris. Apa ada sesuatu yang buruk akan terjadi? Aku menlanjutkan gosokanku pada mangkuk lalu membilasnya. ‘Andai saja menyelesaikan semua masalah ini semudah mencuci semua benda pecah belah yang ada di hadapanku,’ batinku kelu.

-_-‘)

Aku menarik nafas sejenak. Ruang tengah kembali bersih, tumpukan alat makan yang kotor kembali mengkilat, peralatan masak tertata rapi di almari, dan sebagian orang telah kembali ke peraduan masing-masing. Tinggal para hyeong penghuni lantai atas, Seongmin hyeong yang sedikit mabuk, Dipta yang terkantuk-kantuk, dan tentu saja aku yang masih setia menuangkan soju ke masing-masing gelas. Aku menatap botol hijau di tanganku. Ikut menikmati cairan bening yang membuat pikiran melayang? Sayangnya tidak. Aku lebih memilih cairan merah yang pernah disodorkan Si Magnae kepadaku satu tahun yang lalu. Tapi Pria itu sudah berkubang di kamar sejak selesai membersihkan ruang tengah. Apa ia menghindariku?

“Ah. Ini sudah hampir pagi.” Teuki hyeong meletakkan gelasnya dengan hentakan yang cukup keras. Aku yakin ia sudah mabuk namun masih memiliki kesadarannya. “Gaja. Kita kembali. Sudah waktunya tidur.” Ia bangkit lalu menarik Huicheol hyeong yang sudah hampir tidak sadar.

“Teuki, neo..” racau Huicheol hyeong, orang yang mungkin lebih kuanggap sebagai eonni dari pada oppa itu. “neo, jjinja..” Aku tak lagi mampu mengartikan perkataan Huicheol hyeong selanjutnya. Yang aku tahu Teuki hyeong hanya mengangguk dan menjawab pasrah kata apa saja yang keluar dari mulut pemilik kucing ungu itu.

Hae hyeong bahu-membahu dengan Shindong hyeong untuk memapah Kangin hyeong yang terlihat ingin menelan seseorang. “Kau mau ikut kami ke atas, Nabi-ya?” ucap Hae hyeong sambil memakai sandal di ambang pintu. Ke lantai dua belas? Sepertinya boleh juga.

Di sela obrolan hyeong-deul tentang undangan Donghae hyeong, aku memandang Dipta penuh manja, berharap ia mengijinkanku untuk pergi ke apartemen lantai atas. “Dipta-ya.”Dan ia harus ikut denganku, tentunya. Aku masih membutuhkan telunjuknya untuk masuk kembali ke apartemen lantai sebelas. Jangan tanya mengapa aku menolak untuk menginap di lantai dua belas. Siapapun tak akan mau bertahan semalam pun bila disuguhi pemandangan ‘abs ajeossi-deul’. Kecuali mereka yang cukup pervert, pasti akan bertahan berlama-lama saat melihat mereka keluar masuk kamar mandi dengan penutup yang sangat minim.

Back to reality, Dipta yang baru saja mengantar Seongmin hyeong ke kamar memandangku seram. Ia seperti mempertanyakan kewarasanku. Tapi pada akhirnya hanya mendesah lalu membantu Teuki hyeong yang merangkul Huicheol hyeong. Sepertinya aku menang lagi. Dan sebuah senyum puasku terkembang tanpa diketahui enam namja yang berjalan terseok di depanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar