Name : ru_phee3
Title : Our Beloved Fairy God Mother
Cast(s) : Ayu (Lisha), Dipta, Lisa
Genre : Fantasy, Angst(?)
Rating : General
Length : Series
Rating : General
Length : Series
Author's Note : The casts are mine.. The story is mine.. It's a fantasy story.. Not the real one, but made up for one.. I hope no bashing, but critics are valuable, as worth as gold.. enjoy.! n_n
Cerita ini dimulai dari rasa persahabatan, cinta, dan kasih sayang..
Seorang gadis kecil lusuh, seorang anak laki-laki tampan, dan sesosok ibu peri..
Perjalanan tiga entitas yang penuh tawa dan air mata..
Yang tak akan pernah berakhir walau telah tenggelam oleh kesedihan..
Sebuah legenda untuk Kakak Cantik kami, Lisa Rania, yang telah berada di alam sana..
‘We love you for ever after’..
_Ayu and Dipta, with all of our love_
Matahari siang itu tidak begitu terik. Biasnya di jendela begitu cantik, membuat dua sosok kecil yang bergelung tak ingin sedikitpun beranjak. Sinarnya selembut dendangan riang gadis yang tak henti membelai kepala dua anak itu, menularkan kehangatan di hari yang bergelayut mendung. Tak ada sendu dari sang cahaya walau gelap menggantung di langit, menutupi keperkasaannya. Malah ia seperti sedang berbahagia, sepolos wajah dua bocah yang terlelap di pangkuan seseorang dengan senyum tulus yang menawan.
---
Di sebuah kursi berlengan yang menghadap ke jendela, mimpi dan harapan kami dimulai. Ditemani alunan riang dari suara lembut yang sangat feminin atau denting piano, diselimuti hangat matahari, dan dipeluk lembut oleh kebahagiaan, kami merajut milyaran kilo meter benang kehidupan dengan bekal sebuah memori kebahagiaan.
.
.
Aku dan Dipta, saudara tak sedarahku, menekuri setiap inci dari jendela kaca tempat kami dulu sering menghabiskan waktu bersama. Kami menaiki ambangnya yang cukup lebar--bahkan untuk kami membaringkan badan--, mengamati keadaan di balik sana yang penuh dengan warna hijau, sedikit mendiskusikan seberapa besar jendela ini dulu bagi kami.
.
.
Sebentar saja kami terkejut dan saling pandang. Tanpa banyak bicara lagi kami segera berlari keluar, melintasi teras kayu yang berderak, jalan berkerikil, dan gerbang pagar sebelum menambah kecepatan di jalan yang melandai. Tidak kami indahkan teriakan Bu Dhe di depan pintu.
.
.
Nafasku sudah putus-putus, namun pacuan kakiku tak menyurut. Sesuatu yang kulihat mengalahkan rasa sakit di dadaku yang semakin perih. Bukan karena penyakitku kambuh, tapi karena rasa rindu yang menggebu yang tanpa ampun menyengat mata, hidung, dan tenggorokanku. Siksaan yang mungkin menjadi jauh lebih menyakitkan, atau berakhir manis. Harapanku mulai membesar saat kakiku menuruni lereng curam tak lebih tinggi dari satu meter sebelum berkecipak di air.
---
Kakiku berkecipak di sungai kecil yang membelah perkebunan. Airnya begitu menyegarkan. Bagiku memang begitu, tapi tidak untuk anak lusuh itu. Ku lihat ia masih saja meringkuk di balik jaket tebal, memeluk lututnya di atas batu besar. Dengan wajah penuh kantuknya yang terlihat sangat lucu, tak salah jika aku menjahilinya. Segera ku percikkan air yang cukup dingin ke wajahnya yang membuatnya gelagapan.
.
.
“Bangun, Lusuh! Kau tidak lihat mentari sudah tersenyum untukmu? Kau mau menyia-nyiakannya? Ayo turun ke air! Bau lusuhmu sudah sangat menyengat. Saatnya kau mandi,” seruku sambil menarik tangannya setelah berhasil melepas jaket coklat yang super besar dari badannya.
.
.
“Wuuaaa! Ini sangat dingin!” semburnya yang langsung berontak dari genggamanku.
.
.
“Tidak. Ini menyegarkan. Cocok untukmu yang tidak mandi dari kemarin siang.” Aku tergelak tanpa melepaskan pergelangan tangannya.
.
.
“Aaahh! Lepaskan! Ini masih terlalu pagi untuk mandi di udara sedingin ini!” Jeritannya kian melengking.
.
.
“Ini sudah jam 9, Lusuh. Bahkan sudah terlalu terlambat untuk sekedar mandi pagi.” Kutekankan kata terlambat sejelas-jelasnya.
.
.
“Tidak untukku!” Ia membentakku sebelum mencoba melepaskan cengkramanku lagi.
.
.
‘Dasar bocah lusuh,’ batinku kecut. Segera saja ku tarik lengannya lebih keras, membuatnya limbung dan berakhir di dalam air yang setinggi lututku, tak lebih dari tiga puluh senti meter. Dengan pasti dan tanpa cela, rencanaku memandikannya pagi ini berhasil.
.
.
“Kau anak gila! Kau membuatku basah!” Ia mulai memakiku, dengan masih berusaha menyingkirkan rambut basahnya dari wajah. Membuatku tertawa hebat.
.
.
“Ayo. Kita sekalian bermain. Sudah terlanjur basah, sekalian saja,” ajakku sambil melepas kausku lalu menarik tangannya berdiri. “Ibu Peri, aku ingin mencari ikan bersama anak lusuh ini,” aku menoleh ke arah tepi sungai kecil itu, mendapati sosok kakakku duduk di batu besar sambil memeluk jaket anak lusuh dan kausku. “Boleh?” tanyaku yang disambut dengan senyum manis dan anggukannya.
.
.
“Ayo berdiri!” Kutarik lengan tukang penggerutu itu hingga berdiri lalu memandang tatapan lembut yang bahagia itu di atas batu, seorang Ibu Peri yang terlihat semakin cantik di bawah hempasan sinar mentari. Di atas batu tua separuh berlumut, kakakku tersayang melambaikan tangan padaku yang masih menggenggam tangan Si Bocah Lusuh.
---
Di atas batu tua yang kini sepenuhnya berlumut, aku mendapati kekosongan. Begitu juga dengan pemilik lengan yang ku cengkeram kuat, separuh memberi kekuatan dan separuh mencari pegangan, hanya merasa hampa. Tak ada senyum manis dari Ibu Peri. Tak ada Ibu Peri. Bahkan kabut menutupi rupa matahari. Tak ada potret indah tentang Ibu Peri yang tersenyum saat bermandikan cahaya matahari. Tak ada lagi.
.
.
Ku dengar isakan lembut dari arah belakangku. Getarannya mengalir ke dalam genggamanku yang semakin erat. Wajah Lisha yang penuh air mata terpampang jelas di mataku, membuat paru-paruku kehilangan oksigen saat itu juga.
.
.
“Uljima, Lish. Uljimara. Kajja, kita kembali ke rumah.” Ku peluk badan yang terlihat hampir hancur itu, membuatku sadar bahwa sebagian punggungnya basah akibat jatuh saat menuruni sisi sungai tadi. Ku tarik tubuhnya naik ke tanah kering. Walau dalamnya air tadi tidak sampai tinggi setengah betisku, tapi bagian pakaian kami yang basah segera saja menyalurkan dingin udara berkabut siang ini.
.
.
“She isn’t here, Dip. But why? I really saw her here. You saw her too, right? Where’s she go?” Tangisnya pecah seketika. Dengan hati miris, aku hanya mampu mengeratkan pelukanku sambil terus membelai rambutnya. Ia hancur, begitu pun aku.
.
.
“Kajja, kita kembali ke rumah.” Aku mengangkat tubuh ringkih yang masih terus menangis. Gadis Lusuhku yang terlalu rindu pada Ibu Perinya. ‘Ibu Peri Cantik, kakakku tersayang, apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan?’ batinku kelu, sambil terus berjalan menaiki jalan landai menuju rumah.
---
Seberkas cahaya muncul dari balik pohon pinus tak jauh dari batu tua penu lumut..
Lama dan perlahan membentuk suatu bentuk..
Tubuh semampai, rambut ikal indah yang tergerai..
Segurat wajah sedih dengan bibir yang terus berkata ‘maaf’..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar