Author : ru_phee3
Title : Masquerade
Cast(s) : Kyuhyun, Heechul, oc
Genre : mystery, angst
Rating : all age
Length : chaptered
Author's note :
Title : Masquerade
Cast(s) : Kyuhyun, Heechul, oc
Genre : mystery, angst
Rating : all age
Length : chaptered
Author's note :
“Topeng, menurut saya terbagi
menjadi 7 bagian utama. Dahi, hidung, mulut dan dagu, pipi kanan, pipi kiri,
mata kanan, dan terakhir mata kiri,” jelas seorang wanita bertubuh ramping
sambil berjalan berkeliling kelas. “Bagian pengerjaan pertama adalah pipi dan
dagu. Mengapa begitu? Dinda?” Ia tersenyum saat orang yang ia sebut
mendongakkan kepala sambil cepat-cepat menyingkirkan ponsel.
“Ehm. Bisa Anda ulangi
pertanyaannya, Ms.?” Sontak seisi kelas menghujani gadis itu dengan kata-kata
ejekan.
“Topeng, yang pertama diperhatikan
adalah bagian pipi dan dagu. Mengapa?” Wanita itu hanya tersenyum menikmati
mimik lucu dari salah satu siswa kelas kerajinannya siang ini.
“Karena sebagai dasar dan acuan
letak topeng agar pas di wajah?” jawab muridnya itu dengan nada tanya.
“Saya yang bertanya, Dinda. Jangan
balik bertanya. Dan tolong masukkan ponselmu ke dalam tas atau saya masukkan ke
dalam oven tembikar,” ucapnya tegas namun tidak singkron dengan senyumnya yang
lembut.
“Baik, Ms. Ayu,” jawab Dinda
pasrah sambil melirik lemari besi besar di sudut jauh ruangan yang masih
memproses beberapa gerabah sejak sejam yang lalu. Ia bergidik membayangkan
ponselnya yang keluaran terbaru meleleh di dalam tungku pembakaran tak kurang
dari semenit.
“Kita lanjutkan,” Ms. Ayu dengan
lantang menarik perhatian semua orang di hadapannya. Ia kini telah berdiri di
depan kotak kayu besar. “Jawaban Dinda benar,” lanjutnya. “Sekarang akan saya
tunjukkan beberapa topeng pertama buatan saya.” Tangan rampingnya mengangkat
kotak kayu ke atas meja terdepan dan mulai membagikan kotak-kotak kaca berisi
topeng. “Bayu, Zain. Bagikan sisanya ke teman-teman kalian.”
“Satu orang satu, Ms.?” Tanya
salah seorang di bagian belakang.
“Ya. Satu orang satu topeng. Ada
yang mau mencoba membuat topeng hari ini?” Guru cantik itu meletakkan sebuah
botol berwarna cokelat di atas meja. Alisnya naik, sedikit menantang
berpasang-pasang mata di hadapannnya.
“Saya, Ms.!” Tampak Dinda
mengacungkan kotak kaca bagiannya lalu maju ke depan.
888
“Saya, Ms.!” Dinda, salah satu
muridku maju tanpa ditunjuk. Di tangannya ada topeng pertama yang ku buat.
“Okay,” jawabku. Seperti yang ku
kira. “Buatlah komedi, Dinda.” Ku lihat ia mengangguk mantap sambil menekuri
kotak kaca di tangannya. “Dan Pras. Tragedi untukmu,” ujarku pada salah satu
dari tiga penghuni bangku bagian tengah. “Dua sejoli, Hendra dan Aulia, kalian
saya beri tema Yin dan Yang.” Sekali lagi sorakan riuh mengiringi para model
hari ini berjalan menuju ke arahku.
“Ms., benarkah ini topeng pertama
Anda?” tanya Dinda tiba-tiba saat aku mengikatkan rambutnya.
“Uhm, tulisannya begitu, khan?”
tanyaku balik.
“Tapi ini terlalu rapi untuk
pengerjaan pertama, Ms. Ini topeng kesekian yang pengerjaannya di beberapa
waktu dan tempat yang berbeda bukan?” tanyanya lagi.
“Jelaskan padaku,” jawabku enteng.
Ku rasa ia akan menjawab dengan betul lagi kali ini.
“Dilihat dari potongan kertasnya
yang sama, Ms. Tak mungkin ini dibuat untuk coba-coba. Tapi ini jelas kertas
yang berbeda di setiap bagian. Alur peletakannya juga terlihat sama kanan kiri,
tapi tidak seprofesional topeng-topeng lainnya,” oceh Dinda panjang lebar
sambil menelusuri detail topengnya. “Andai boleh dibuka, Ms. Aku penasaran
dengan baunya. Ini dari Koran, Ms.?” Matanya berbinar saat mengetahui fakta
terakhir dan senyum meng-iya-kanku.
“Okay. Sekarang pakai
Vaseline-nya. Lainnya yang bukan model akan memotong kertas.” Aku meninggalkan
murid kesayanganku itu. Ku lihat Ia masih mengamati topengku dengan takjub.
---
“Benar tidak boleh dibuka, Ms.?
Sebentar saja.” Dinda masih mengekoriku saat teman-temannya yang lain menata
ruangan yang tadi sempat rusuh.
“Tidak, Dinda. Topeng itu sudah
tua. Kalau dikeluarkan, akan hancur,” jawabku sembari menata kotak-kotak kaca
berisi topeng ke tempatnya semula.
“Saya benar-benar penasaran.
Seperti apa baunya, Ms.?” tanyanya.
“Seperti bau koran, kanji, dan
Vaseline yang baru saja terlepas dari wajahmu, Dinda.” Ku ulurkan tanganku,
meminta kotak terakhir yang masih berada dalam dekapannya.
“Saya masih penasaran,” ia
menjauhkan kotak itu dari jangkauanku.
“Lalu?” aku memiringkan kepalaku,
menanyakan maksudnya.
“Satu minggu,” tawarnya sambil
memamerkan Puppy Eyes-nya.
“Membawanya pulang? Tidak, Dinda.
Itu properti milik sekolah.”
“Lima hari.”
“Tidak.”
“Tiga hari dan dua espresso
panas,” ia mengeluarkan jurus manjanya.
“Tidak tergoda,” aku menggeleng pelan,
meskipun sambil menelan ludah.
“Tiga hari, espresso, dan aku
menyapu kelas tiap hari,” ia masih mendesakku.
“No.”
“Tiga hari, espresso, menyapu tiap
hari, atau aku akan menangis sekarang!” ancamnya yang membuatku merinding
seketika. Membuat murid menangis? Apa kata dewan pengawas sekolah, nanti?
“Okay. Tak pernah ada yang menang
dari sifat keras kepalamu. Tiga, tidak lebih. Tidak boleh dibuka.” Ujarku setelah
terdiam cukup lama untuk berikir, yang membuatnya mengangguk senang, memelukku,
menyambar tasnya, lalu berlari keluar.
“Ia bahkan meninggalkan kelasku
sebelum aku membubarkannya,” senyumku sambil menggelengkan kepala. “Tinggalkan
saja. Sampai bertemu minggu depan.” Ku dorong murid-muridku yang lain keluar
kelas. Beberapa menatapku heran karena tak biasanya aku melepaskan mereka bila
kelas masih kacau balau. “Jangan lupa kumpulkan topeng kalian minggu depan,”
salam terakhirku sebelum menutup pintu. Tak adil bukan, bila salah satu muridmu
dapat keluar kelas namun yang lain tidak?
Lama aku bersandar di daun pintu,
membiarkan potongan-potongan memori masuk ke otakku. Kenangan gila masa mudaku.
Sesuatu yang kulakukan secara sadar dan tak pernah kusesali. Sebuah torehan
pada lembar sejarah oleh seorang Ayu, bukan, seorang Park Na Bi. Kenekatanku
lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Aku terkikik geli. Sepuluh tahun
tak sedikitpun menghapus rincian kejadian itu. Dan tujuh topeng teratas dalam
tumpukan kotak kaca mematri ingatanku. Wajah-wajah yang tak akan pernah ku
lupakan.
~flashback~
Malang, Indonesia. June 28th,
2010
“Topeng pertamaku sudah jadi. Apa yang
akan ku lakukan selanjutnya.?” senandungku sambil menimang sebuah topeng kertas
yang baru saja selesai di-finishing.
“Sebuah topeng lagi?” tanyaku pada diri sendiri. “Boleh, tapi aku ingin ada
pasangannya.“
Tak berapa lama televisi, yang sedari awal
mengoceh sendiri, menampilkan sosok pria berambut pirang hazelnut berbando
membuatku segera menyambar ponsel di atas meja.
“…”
“Pesankan tiket ke Korea Selatan sekarang,”
ucapku memotong nada sapaan dari seberang.
“…”
“Paling tidak besok malam aku harus sudah
ada di Seoul.” Nada bicaraku sedikit goyah, pertanda aku sendiri masih berusaha
memastikannya.
“…”
“Baiklah. Kabari aku kalau sudah dapat.”
“…”
“Kelas apapun asal aku bisa sampai sana.”
Aku memutus hubungan tanpa menunggu jawaban. “Seoul, I’m coming.”
Incheon, South Korea. June 29th,
2010
Pesawatku mendarat di Incheon tepat pukul
06.00 p.m. KST. Tepat dua jam sebelum perkumpulan itu di mulai. Tak perlu terburu-buru karena rencanaku
sendiri baru berjalan tengah malam nanti. Aku masih sempat melakukan beberapa
persiapan di bengkel kerjaku.
“Apgeujung, palli puttakhaeyo,” ujarku
sambil menyerahkan secarik kertas berisikan alamat kepada sopir taksi pertama yang
kulihat. Maklum, aku masih sedikit gelagapan saat berbicara dengan bahasa yang
baru ku pahami belum sampai setahun itu. Jadi aku sengaja menuliskan alamat
tempat tujuanku dengan Hangug dan tinggal menunjukkannya.
“Ye, agasshi.” Pria tua itu memasukkan koperku
ke bagasi dan segera melarikanku ke tempat yang jaraknya dua jam perjalanan
dari tempatku sekarang.
Apgeujung, Seoul, South Korea. June 29th,
2010. 10.30 p.m. KST
Potongan-potongan kecil dari harian Seoul
yang sempat kubeli di bandara tadi berjatuhan dari antara bilah gunting dan
tanganku. Perlembarnya yang berlebar tak lebih dari setengah kuku telunjuk berserakan
begitu saja di atas meja, bercampur antara satu dengan yang lainnya. Setelah
menghabiskan satu eksemplar, jari-jariku dengan lincah mengelompokkannya sesuai
warna. Kini mereka telah rapi di dalam kotak-kotak kertas di hadapanku.
Smart phone-ku tiba-tiba mengeluarkan suara
berisik, menandakan ada panggilan masuk.
“Yeoboseyo?” jawabku setelah menempelkan
ibu jariku di layar untuk menerima panggilan.
“Na
Bi~ya. Heenim sudah mulai mabuk. Mungkin akan tumbang satu setengah jam lagi. Kira-kira
aku akan datang bersamanya dalam waktu dua jam. Bersiaplah,” suara
laki-laki yang terdengar bernada ragu.
“Ne, arraseoyo,” jawabku. “Kogjongmalyo,
Oppa. I wouldn’t give him any harm,” tambahku sebelum mendengar ocehan tambahan
dari salah satu sahabat berdarah Korea-ku itu.
“Ne.
I’ll hang up,” tutupnya masih dengan nada resah.
Aku masih menekuri layar smart phone putih
itu, menatap gambar-gambar wajah Geun Seok Oppa dan wajahku yang tersenyum
lebar pada kamera. “Gamsahabnida, Oppa. Kau selalu saja kurepotkan untuk urusan
konyol seperti ini. Mianhaeyo, Oppa,” ucapku sambil menggerakkan ujung
telunjukku membuat tayangan pada benda datar itu berubah menjadi wajah sadis
seorang pria. “Let’s play Heechul~nim. Kuharap kau tidak marah padaku. Mohon
bantuannya.”Aku menunduk di hadapan smart phone yang masih menampilkan pemilik
senyum mematikan itu.
“Lish! Eodiya?” suara sepatu kets yang
bersinggungan dengan lantai terdengar dari atas tangga. Dan hanya satu orang di
Korea yag memanggilku dengan sebutan itu. Aku tersenyum saat wajah teman masa
kecilku muncul.
“Dipta? Waseoyo? Turunlah,” jawabku
bersemangat.
“Neo!” bentaknya saat sudah tiba di ruang yang
kusebut bengkel kerjaku. “Apa yang kau lakukan di Seoul?!” Gurat marah muncul
di alisnya yang tertaut.
“Project. And I hope you’ll help me,” mataku
kini sibuk dengan beberapa botol plastik yang sudah berjajar di atas meja, tak
menghiraukan penanya yang mulai naik pitam.
“Mwo? Mengganggu artis-artis papan atas
lagi? Merecoki Geun Seok hyung?” Dipta memandangku gusar.
“Seperti itulah,” jawabku sambil lalu.
“Jebal, Lish. Hajima. Pergilah
berkeliling, lalu pulanglah. Mereka bukan mainan. Aku akan menelepon Geun Seok
hyung untuk membatalkan rencanamu dengannya, apapun itu.”
Aku meletakkan topeng kertas pertamaku
yang sedang ku amati beberapa detik terakhir, lalu menoleh kearah pria
bertampang campuran Jawa-China itu. “Aku tidak menganggap mereka mainan. Mereka
adalah pemainnya. Aku hanya pengatur pertandingan,” kutatap lekat-lekat sosok
yang sudah aku anggap saudara itu. “Dan jangan suruh aku pulang. Aku sedang
melarikan diri,” arah pandangku kembali ke benda-benda yang mengisi penuh meja
dan meninggalkan Dipta yang berdiri mematung, bergulat dengan pikirannya.
888
Same place. June 30th, 2010.
01.45
“Na Bi~ya,” suara yang terdengar kehabisan
napas terdengar dari arah pintu ruang tamu. “Park Na Bi. Hya! Heenim! Kau
benar-benar mabuk parah! Chamkanman. Beberapa meter lagi kita sampai di sofa,”
gerutu si pemilik suara sambil masih membopong tubuh ramping yang berjalan
tanpa sadar itu. Ia takut bila orang yang dibopongnya tiba-tiba menumpahkan isi
perut ke badannya.
“Hyung!” suara lain muncul dari arah
tangga yang menuju lantai bawah.
“Hya! Saeng! Palli bantu aku. Dia berat
sekali.” Geun Seok, pemilik suara pertama, merasa heran. Tubuh kurus kawannya
itu menjadi berat saat mabuk. “Dipta, kenapa kau di sini? Na Bi~ya, eodiga?” ia
bertanya setelah berhasil mendaratkan badan bau alkohol itu di tempat empuk.
“Masih di bawah. Kenapa Heechul hyung kau
bawa ke sini?” Dipta menutup hidungnya saat membetulkan posisi tidur Heechul,
pria ramping yang mabuk berat. Walau ia sering hilang akal karena wine, aroma
soju tidak pernah dapat ditolerir oleh hidungnya.
“Dia ada janji dengan Na Bi.” Jawaban Geun
Seok membuat Dipta murung.
“Oppa, kenapa lama sekali?” ucap seorang
perempuan yang datang membawa nampan dan menggamit bantal di salah satu
lengannya.
“Jangan salahkan aku. Heenim tersayangmu
itu masih ingin berkaraoke walau sudah tak tahu mana kiri, mana kanan,” Geun
Seok menyeruput isi gelas yang diulurkan oleh Na Bi. “Gahh~. Apa ini?”
protesnya setelah meludahkan cairan asam yang sempat menyentuh lidahnya.
“Hanya jeruk limau hangat. Oppa pasti juga
minum bersama Heechul~nim, khan?”
“Sebotol soju tak akan membuatku mabuk, my
butterfly.” Geun Seok bangkit dan mengacak rambut Na Bi. “Kau tak menggunakan
kamarmu malam ini, khan? Aku akan tidur di sana,” ujarnya sambil meregangkan
badannya. “Yeorobun, gudbam.” Ia memberikan senyum terbaiknya sebelum menaiki
tangga.
“Jaljayo, Oppa,” jawab Na Bi. Sedangkan
Dipta menatap gadis yang masih berdiri itu garang.
---
Saat ini ada tiga orang di basement gedung
itu. Salah satunya adalah orang berwajah oriental yang bisa membuat sekumpulan
remaja putri jatuh pingsan seketika. Dua orang lainnya yang sedang berkutat
dengan berbagai kertas dan lem berkulit lebih gelap, yang tampaknya bukan penduduk
asli dari Negara yang terkenal akan ginsengnya itu.
“Jangan menatapku seperti itu. Perhatikan
saja kertas dan gunting di tanganmu. Kau tak mau terluka, khan?” sebuah bahasa
bukan hangeug mengalir jelas dari mulut salah satu dari mereka yang ternyata
perempuan.
“Ch, apa kau tahu apa yang sedang kau
lakukan?” timpal seorang lagi dengan suara berat yang menandakan dia seorang
lelaki.
“Aku tahu. Aku sedang menge-check apa ia
akan bangun lebih cepat dari perkiraanku atau tidak,” jawab si perempuan ringan,
matanya sibuk mengamati pria oriental yang tak sadarkan diri di atas meja kerjanya.
“Bukan itu maksudku. Ini semua. Yang kau,
emm, kalian sebut permainan. Tahukah kau apa yang akan terjadi bila ini
berjalan buruk?” lelaki itu meletakkan alat tajam yang ada di tangannya. Ia tak
ingin benda itu ia pakai untuk melukai seseorang yang telah ia anggap
saudaranya sendiri bila ia sudah sangat frustasi dengan jawaban-jawaban sambil
lalu yang ia terima.
“Aku punya lebih dari selusin rencana
cadangan. Jadi kau tenang saja. Lagi pula ini sudah jadi perjanjian kami.”
“Perjanjian yang dibuat oleh sekumpulan
orang mabuk tak berarti apa-apa,” sambar sang pria cepat sebelum berbagai
alasan lain dikemukakan oleh sahabat bertahun-tahunnya itu.
“Aku punya kontrak yang legal. Aku juga
sudah memastikan bahwa dalam kondisi sadar pun mereka ingat perjanjian itu.”
Perempuan itu kini peralih ke sebuah lemari yang berisikan ibul dan bantal.
“Tidurlah, ini akan sedikit lama,” ucapnya sambil menyerahkan apa yang ada di
tangannya pada lawan bicaranya.
“Lish..” pria itu memberikan pandangan
sendu.
“Ka, Dipta. Nan gwenchanha. I’ll finish
everything before someone realized it. Jaljayo, naui saranhaneun saram,” Lish,
perempuan itu tersenyum manis sebelum membelakangi Dipta yang lagi-lagi hanya
bisa diam tertegun.
888
“Annyeong haseyo, Heenim. Bagaimana
tidurmu?” Geun Seok menyambutku di ruang makan pagi, eh, siang itu. Untung hari
ini tak ada jadwal apapun. Aku memandang sekeliling. Ini tidak lain, tidak
bukan studio musik yang merangkap tempat singgahnya di Apgeujung. Bukankah
tempat ini telah ia serahkan pada orang lain?
“Annyeong. Apa aku bertingkah bodoh
kemarin?” tanyaku saat sekelebat ingatan memalukan mampir di otakku. Ku tarik
kursi di seberang kursinya, lalu duduk.
“Ani. Hanya seorang penyanyi roker yang
kehilangan suara yang tidak tahu beda kanan dan kiri.” Geun Seok masih dengan
tenangnya menyantap sereal berbentuk bintang di hadapannya. “Minumlah. Itu akan
mengurangi sakit di kepala dan tenggorokanmu,” katanya sambil menyodorkan
segelas cairan berwarna kuning kecoklatan. “Jangan tanya. Aku tak tahu apa isinya
tapi jelas manjur,” ia menjawab pertanyaan yang hanya kulontarkan dengan
tatapan.
“Hari ini perasaanku sedikit ringan. Apa saat
mabuk aku masuk ke tempat spa atau semacamnya?” tanyaku lagi yang kali ini tak
hanya disambut senyum oleh Geun Seok tapi juga tawanya yang membahana. Badanku
memang sedikit pegal karena tidur di sofa semalaman. Tapi rasanya tidak begitu
lelah. Seperti baru tidur di atas tempat tidur yang nyaman.
“Kau benar merasa begitu?” ia masih
berusaha menahan tawanya tapi meledak lagi saat aku mengangguk dengan wajah
polos.
“Hyung. Tawamu lebih parah dari jam
wekerku,” sebentuk wajah kusut muncul dari balik sofa dengan ibul yang membungkus badannya.
“Hya~! Kau mengejutkanku, Bocah!” Aku
melemparnya dengan salah satu sandal yang kupakai. “Usap liurmu itu! Dasar anak
menjijikkan!” kupandangi ia sampai menghilang di balik pintu kamar mandi di
bawah tangga.
“Hyung, tatapanmu memang mengerikan. Tapi masih
ada yang lebih mengerikan. Jadi aku tidak takut,” ia hanya menjulurkan kepalanya
keluar dari balik pintu dan menunjukkan lidahnya, namun segera masuk sedetik
sebelum sandal keduaku melintasi tempat kepalanya tadi berada.
“Neo, jinja. Anak macam apa itu?”
Bagaimana bisa ada orang seperti itu? Tidak cukupkah eksistensi ke-evil-an
Kyuhyun? Apa orang-orang sebangsa bocah ini juga evil seperti itu?
“Sudahlah. Dia hanya anak-anak. Umurnya
saja belum genap dua puluh tahun,” Geun Seok tersenyum. Andai aku seorang
yeoja, aku akan langsung jatuh cinta pada senyumnya itu. “Baca saja ini. Ini
yang kau harapkan selama ini bukan?” ia menyerahkan secarik kertas koran yang
di atasnya terdapat tulisan yang menggunakan marker hitam.
“Susah membacanya. Dan ini bukan Hangeul,”
aku menyodorkan kembali kertas yang tulisannya tumpang tindih itu.
“Ini Hangeul, Heenim. Annyeong haseyo,
Heechul-nim.” Geun Seok membacanya keras-keras. Tiba-tiba aku merasa tak bisa
bernapas dengan baik. Heechul-nim? Hanya ada seorang manusia di dunia ini yang
memanggilku Heechul-nim.
“Benarkah?” segera ku tarik kertas itu
dari tangan Geun Seok. “Aku baca sendiri. Lagi pula aku juga bisa membaca
kalimat dengan bahasa Inggris sekalipun,” ucapku langsung berjalan kearah ruang
tengah, menyambar towel paper dan bolpoint dari pantry sebelum memosisikan
diriku di sofa.
“Pwaiting, Heenim. Saranghaeyo,” ucap Geun
Seok dari kejauhan sambil membentuk pola hati dengan lengannya di atas kepala.
Ku ikuti gerakannya lalu memfokuskan
perhatianku pada coretan tak jelas di depanku. Ia benar. Aku sudah mengharapkan
ini dari lama. Enam bulan? Delapan bulan? Setahun? Sejak comeback stage Neorago
sampai promosi Bonamana. Akankah ini berjalan seseru janji orang itu?
---
“Bocah! Kau sudah tak penuh air liur lagi,
khan?” ucapku sambil menepuk kepala bocah yang tadi sempat menjadi target
sandalku. Kini ia sedang menikmati hal yang sama yang tadi dinikmati Geun Seok.
“Ya! Hyung. Di tempatku memegang kepala
orang harus membayar denda!” protesnya berusaha mengelak dari jangkauan
tanganku.
“Omong kosong!” jawabku sambil duduk di
kursi sebelahnya. “Mana ada aturan seperti itu?”
“Ada! Aturanku,” jawabnya membuatku kesal.
“Kau mau keramas dengan susu dan sereal,
hah?” Ku angkat mangkukku, berusaha mengancamnya.
“Ani, hyung. Aku sudah mandi barusan. Masa
mandi lagi. Hyung mau aku sakit, huh?” ia menunjukkan muka tak bersalahnya. Aku
jadi ingat isi surat tadi.
“Dipta, neo. Aku tak tahu apa hubunganmu
dengan orang itu, tapi jangan khawatir. Kami tahu apa yang kami lakukan. Bahkan
kontraknya sudah dapat lampu hijau dari Soo Man Sajangnim,” aku mengatakan apa
yang harus kukatakan. Orang itu menganggap Dipta adalah anak baik-baik yang
punya kekhawatiran berlebih. Jadi dari pada nanti merusak acara, lebih baik aku
yang terjun langsung ke dalam hal ini yang mengatakan padanya.
“Aku? Khawatir? Memang aku khawatir,
hyung? Untuk apa mengkhawatirkan dirimu? Lebih baik mengkhawatirkan diriku yang
tak diberi ransum makanan secara teratur olehmu,” jawabnya enteng.
“Neo..” aku sudah siap dengan sendok di
tanganku, namun terhenti sebelum sempat mengenai kepalanya.
“Sudahlah. Kalian ini.” Geun Seok
menyambar sendok itu, memutar-mutarnya di tangan. “Heenim, kau lapar tidak?
Hongki mengajak kita makan. Dia rindu bulgogi di depan dorm-mu.”
“Eo. Aku mandi dulu. Aku ingin berendam. Igeo.
Makan saja. Aku lebih memilih bulgogi dari pada tepung kering dan susu.” Ku dorong
mangkukku ke arah Bocah Neraka itu.
“Gomawo, hyung. Kau tahu saja aku sangat
lapar, tapi Geun Seok hyung melarangku mengambil porsi tambahan.” Ia tersenyum
senang di bawah tatapan kesal Geun Seok, membuat meja makan tiba-tiba riuh saat
aku mulai menaiki tangga. Saat ku lirik, dua insan itu sedang berebut sereal di
mangkuk yang sebelumnya menjadi milikku. Bukannya masih ada satu porsi lagi
yang tersisa di kardusnya? Untuk apa berebut? Dan kenapa juga kamar mandi yang
ber-bath up ada di lantai dua? Sebenarnya aku malas harus naik turun begini. Aku
yang menaiki tangga diiringi teriakan bahkan umpatan dari lantai bawah. Apa
kata Geun Seok tadi? Ch. Dia bahkan lebih parah dariku.
“Geun Seok! Aku pinjam bajumu! Kau
letakkan dimana?” teriakku sebelum mencapai pintu kamar satu-satunya di lantai
dua.
“Di lemari ada beberapa t-shirt. Jangan
ambil yang abu-abu! Akan ku pakai hari ini!” jawabnya di antara pergulatan
sereal.
“Ah, hyung! Yang hitam untukku!” Dipta
mengalihkan pandangannya kepadaku, memberi kesempatan pada Geun Seok untuk
melarikan mangkuk serealnya kearah ruang tamu. “Hyung! Itu punyaku!” ia berlari
di belakang Geun Seok.
“Kalian menggelikan!” teriakku sebelum
memasuki kamar.
“Heechul Hyung!” suara Bocah Neraka itu
membuatku keluar dari kamar lagi. “Jangan pakai yang putih atau kau akan tahu
akibatnya!” Ia terlihat membawa mangkuk kemenangannya ke dekat tangga.
“Hya! Siapa kau berani mengancamku?” Baru
kali ini ada anak kecil yang berani padaku. “Araseo! Aku pakai yang lainnya.”
Aku masuk lagi ke kamar. Lagi pula hanya t-shirt. Apa yang harus diributkan?
Aku mengobrak-abrik lemari di sudut ruangan,
melihat tumpukan jeans dan jaket. Tapi bukan itu yang aku cari. Aku beralih ke
pintu selanjutnya dan menemukan turtle neck abu-abu milik Geun Seok dan t-shirt
hitam pesanan Bocah Neraka, juga yang putih. Terakhir aku hanya mendapati
kemeja katun berwarna merah jambu.
“Argh!” Ingin rasanya aku menelan dua
orang di lantai bawah. Apa ku pakai saja t-shir putih itu? Tapi bila bocah itu sampai
mengancam, lebih baik aku menurutinya saja. Lebih baik aku segera mandi karena
badanku bau soju dan sangat lengket.
Aku hampir masuk ke kamar mandi saat aku
merasa sesuatu bergerak di atas tempat tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar