Selasa, 12 Juni 2012

masqeurade


Author : ru_phee3
Title : Masquerade
Cast(s) : Kyuhyun, Heechul, oc
Genre : mystery, angst
Rating : all age
Length : chaptered
Author's note :


“Topeng, menurut saya terbagi menjadi 7 bagian utama. Dahi, hidung, mulut dan dagu, pipi kanan, pipi kiri, mata kanan, dan terakhir mata kiri,” jelas seorang wanita bertubuh ramping sambil berjalan berkeliling kelas. “Bagian pengerjaan pertama adalah pipi dan dagu. Mengapa begitu? Dinda?” Ia tersenyum saat orang yang ia sebut mendongakkan kepala sambil cepat-cepat menyingkirkan ponsel.
“Ehm. Bisa Anda ulangi pertanyaannya, Ms.?” Sontak seisi kelas menghujani gadis itu dengan kata-kata ejekan.
“Topeng, yang pertama diperhatikan adalah bagian pipi dan dagu. Mengapa?” Wanita itu hanya tersenyum menikmati mimik lucu dari salah satu siswa kelas kerajinannya siang ini.
“Karena sebagai dasar dan acuan letak topeng agar pas di wajah?” jawab muridnya itu dengan nada tanya.
“Saya yang bertanya, Dinda. Jangan balik bertanya. Dan tolong masukkan ponselmu ke dalam tas atau saya masukkan ke dalam oven tembikar,” ucapnya tegas namun tidak singkron dengan senyumnya yang lembut.
“Baik, Ms. Ayu,” jawab Dinda pasrah sambil melirik lemari besi besar di sudut jauh ruangan yang masih memproses beberapa gerabah sejak sejam yang lalu. Ia bergidik membayangkan ponselnya yang keluaran terbaru meleleh di dalam tungku pembakaran tak kurang dari semenit.
“Kita lanjutkan,” Ms. Ayu dengan lantang menarik perhatian semua orang di hadapannya. Ia kini telah berdiri di depan kotak kayu besar. “Jawaban Dinda benar,” lanjutnya. “Sekarang akan saya tunjukkan beberapa topeng pertama buatan saya.” Tangan rampingnya mengangkat kotak kayu ke atas meja terdepan dan mulai membagikan kotak-kotak kaca berisi topeng. “Bayu, Zain. Bagikan sisanya ke teman-teman kalian.”
“Satu orang satu, Ms.?” Tanya salah seorang di bagian belakang.
“Ya. Satu orang satu topeng. Ada yang mau mencoba membuat topeng hari ini?” Guru cantik itu meletakkan sebuah botol berwarna cokelat di atas meja. Alisnya naik, sedikit menantang berpasang-pasang mata di hadapannnya.
“Saya, Ms.!” Tampak Dinda mengacungkan kotak kaca bagiannya lalu maju ke depan.
888
“Saya, Ms.!” Dinda, salah satu muridku maju tanpa ditunjuk. Di tangannya ada topeng pertama yang ku buat.
“Okay,” jawabku. Seperti yang ku kira. “Buatlah komedi, Dinda.” Ku lihat ia mengangguk mantap sambil menekuri kotak kaca di tangannya. “Dan Pras. Tragedi untukmu,” ujarku pada salah satu dari tiga penghuni bangku bagian tengah. “Dua sejoli, Hendra dan Aulia, kalian saya beri tema Yin dan Yang.” Sekali lagi sorakan riuh mengiringi para model hari ini berjalan menuju ke arahku.
“Ms., benarkah ini topeng pertama Anda?” tanya Dinda tiba-tiba saat aku mengikatkan rambutnya.
“Uhm, tulisannya begitu, khan?” tanyaku balik.
“Tapi ini terlalu rapi untuk pengerjaan pertama, Ms. Ini topeng kesekian yang pengerjaannya di beberapa waktu dan tempat yang berbeda bukan?” tanyanya lagi.
“Jelaskan padaku,” jawabku enteng. Ku rasa ia akan menjawab dengan betul lagi kali ini.
“Dilihat dari potongan kertasnya yang sama, Ms. Tak mungkin ini dibuat untuk coba-coba. Tapi ini jelas kertas yang berbeda di setiap bagian. Alur peletakannya juga terlihat sama kanan kiri, tapi tidak seprofesional topeng-topeng lainnya,” oceh Dinda panjang lebar sambil menelusuri detail topengnya. “Andai boleh dibuka, Ms. Aku penasaran dengan baunya. Ini dari Koran, Ms.?” Matanya berbinar saat mengetahui fakta terakhir dan senyum meng-iya-kanku.
“Okay. Sekarang pakai Vaseline-nya. Lainnya yang bukan model akan memotong kertas.” Aku meninggalkan murid kesayanganku itu. Ku lihat Ia masih mengamati topengku dengan takjub.
---
“Benar tidak boleh dibuka, Ms.? Sebentar saja.” Dinda masih mengekoriku saat teman-temannya yang lain menata ruangan yang tadi sempat rusuh.
“Tidak, Dinda. Topeng itu sudah tua. Kalau dikeluarkan, akan hancur,” jawabku sembari menata kotak-kotak kaca berisi topeng ke tempatnya semula.
“Saya benar-benar penasaran. Seperti apa baunya, Ms.?” tanyanya.
“Seperti bau koran, kanji, dan Vaseline yang baru saja terlepas dari wajahmu, Dinda.” Ku ulurkan tanganku, meminta kotak terakhir yang masih berada dalam dekapannya.
“Saya masih penasaran,” ia menjauhkan kotak itu dari jangkauanku.
“Lalu?” aku memiringkan kepalaku, menanyakan maksudnya.
“Satu minggu,” tawarnya sambil memamerkan Puppy Eyes-nya.
“Membawanya pulang? Tidak, Dinda. Itu properti milik sekolah.”
“Lima hari.”
“Tidak.”
“Tiga hari dan dua espresso panas,” ia mengeluarkan jurus manjanya.
“Tidak tergoda,” aku menggeleng pelan, meskipun sambil menelan ludah.
“Tiga hari, espresso, dan aku menyapu kelas tiap hari,” ia masih mendesakku.
“No.”
“Tiga hari, espresso, menyapu tiap hari, atau aku akan menangis sekarang!” ancamnya yang membuatku merinding seketika. Membuat murid menangis? Apa kata dewan pengawas sekolah, nanti?
“Okay. Tak pernah ada yang menang dari sifat keras kepalamu. Tiga, tidak lebih. Tidak boleh dibuka.” Ujarku setelah terdiam cukup lama untuk berikir, yang membuatnya mengangguk senang, memelukku, menyambar tasnya, lalu berlari keluar.
“Ia bahkan meninggalkan kelasku sebelum aku membubarkannya,” senyumku sambil menggelengkan kepala. “Tinggalkan saja. Sampai bertemu minggu depan.” Ku dorong murid-muridku yang lain keluar kelas. Beberapa menatapku heran karena tak biasanya aku melepaskan mereka bila kelas masih kacau balau. “Jangan lupa kumpulkan topeng kalian minggu depan,” salam terakhirku sebelum menutup pintu. Tak adil bukan, bila salah satu muridmu dapat keluar kelas namun yang lain tidak?
Lama aku bersandar di daun pintu, membiarkan potongan-potongan memori masuk ke otakku. Kenangan gila masa mudaku. Sesuatu yang kulakukan secara sadar dan tak pernah kusesali. Sebuah torehan pada lembar sejarah oleh seorang Ayu, bukan, seorang Park Na Bi. Kenekatanku lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Aku terkikik geli. Sepuluh tahun tak sedikitpun menghapus rincian kejadian itu. Dan tujuh topeng teratas dalam tumpukan kotak kaca mematri ingatanku. Wajah-wajah yang tak akan pernah ku lupakan.
~flashback~
Malang, Indonesia. June 28th, 2010
“Topeng pertamaku sudah jadi. Apa yang akan ku lakukan selanjutnya.?” senandungku sambil menimang sebuah topeng kertas yang baru saja selesai di-finishing. “Sebuah topeng lagi?” tanyaku pada diri sendiri. “Boleh, tapi aku ingin ada pasangannya.“
Tak berapa lama televisi, yang sedari awal mengoceh sendiri, menampilkan sosok pria berambut pirang hazelnut berbando membuatku segera menyambar ponsel di atas meja.
“…”
“Pesankan tiket ke Korea Selatan sekarang,” ucapku memotong nada sapaan dari seberang.
“…”
“Paling tidak besok malam aku harus sudah ada di Seoul.” Nada bicaraku sedikit goyah, pertanda aku sendiri masih berusaha memastikannya.
“…”
“Baiklah. Kabari aku kalau sudah dapat.”
“…”
“Kelas apapun asal aku bisa sampai sana.” Aku memutus hubungan tanpa menunggu jawaban. “Seoul, I’m coming.”
Incheon, South Korea. June 29th, 2010
Pesawatku mendarat di Incheon tepat pukul 06.00 p.m. KST. Tepat dua jam sebelum perkumpulan itu di mulai.  Tak perlu terburu-buru karena rencanaku sendiri baru berjalan tengah malam nanti. Aku masih sempat melakukan beberapa persiapan di bengkel kerjaku.
“Apgeujung, palli puttakhaeyo,” ujarku sambil menyerahkan secarik kertas berisikan alamat kepada sopir taksi pertama yang kulihat. Maklum, aku masih sedikit gelagapan saat berbicara dengan bahasa yang baru ku pahami belum sampai setahun itu. Jadi aku sengaja menuliskan alamat tempat tujuanku dengan Hangug dan tinggal menunjukkannya.
“Ye, agasshi.” Pria tua itu memasukkan koperku ke bagasi dan segera melarikanku ke tempat yang jaraknya dua jam perjalanan dari tempatku sekarang.
Apgeujung, Seoul, South Korea. June 29th, 2010. 10.30 p.m. KST
Potongan-potongan kecil dari harian Seoul yang sempat kubeli di bandara tadi berjatuhan dari antara bilah gunting dan tanganku. Perlembarnya yang berlebar tak lebih dari setengah kuku telunjuk berserakan begitu saja di atas meja, bercampur antara satu dengan yang lainnya. Setelah menghabiskan satu eksemplar, jari-jariku dengan lincah mengelompokkannya sesuai warna. Kini mereka telah rapi di dalam kotak-kotak kertas di hadapanku.
Smart phone-ku tiba-tiba mengeluarkan suara berisik, menandakan ada panggilan masuk.
“Yeoboseyo?” jawabku setelah menempelkan ibu jariku di layar untuk menerima panggilan.
Na Bi~ya. Heenim sudah mulai mabuk. Mungkin akan tumbang satu setengah jam lagi. Kira-kira aku akan datang bersamanya dalam waktu dua jam. Bersiaplah,” suara laki-laki yang terdengar bernada ragu.
“Ne, arraseoyo,” jawabku. “Kogjongmalyo, Oppa. I wouldn’t give him any harm,” tambahku sebelum mendengar ocehan tambahan dari salah satu sahabat berdarah Korea-ku itu.
Ne. I’ll hang up,” tutupnya masih dengan nada resah.
Aku masih menekuri layar smart phone putih itu, menatap gambar-gambar wajah Geun Seok Oppa dan wajahku yang tersenyum lebar pada kamera. “Gamsahabnida, Oppa. Kau selalu saja kurepotkan untuk urusan konyol seperti ini. Mianhaeyo, Oppa,” ucapku sambil menggerakkan ujung telunjukku membuat tayangan pada benda datar itu berubah menjadi wajah sadis seorang pria. “Let’s play Heechul~nim. Kuharap kau tidak marah padaku. Mohon bantuannya.”Aku menunduk di hadapan smart phone yang masih menampilkan pemilik senyum mematikan itu.
“Lish! Eodiya?” suara sepatu kets yang bersinggungan dengan lantai terdengar dari atas tangga. Dan hanya satu orang di Korea yag memanggilku dengan sebutan itu. Aku tersenyum saat wajah teman masa kecilku muncul.
“Dipta? Waseoyo? Turunlah,” jawabku bersemangat.
“Neo!” bentaknya saat sudah tiba di ruang yang kusebut bengkel kerjaku. “Apa yang kau lakukan di Seoul?!” Gurat marah muncul di alisnya yang tertaut.
“Project. And I hope you’ll help me,” mataku kini sibuk dengan beberapa botol plastik yang sudah berjajar di atas meja, tak menghiraukan penanya yang mulai naik pitam.
“Mwo? Mengganggu artis-artis papan atas lagi? Merecoki Geun Seok hyung?” Dipta memandangku gusar.
“Seperti itulah,” jawabku sambil lalu.
“Jebal, Lish. Hajima. Pergilah berkeliling, lalu pulanglah. Mereka bukan mainan. Aku akan menelepon Geun Seok hyung untuk membatalkan rencanamu dengannya, apapun itu.”
Aku meletakkan topeng kertas pertamaku yang sedang ku amati beberapa detik terakhir, lalu menoleh kearah pria bertampang campuran Jawa-China itu. “Aku tidak menganggap mereka mainan. Mereka adalah pemainnya. Aku hanya pengatur pertandingan,” kutatap lekat-lekat sosok yang sudah aku anggap saudara itu. “Dan jangan suruh aku pulang. Aku sedang melarikan diri,” arah pandangku kembali ke benda-benda yang mengisi penuh meja dan meninggalkan Dipta yang berdiri mematung, bergulat dengan pikirannya.
888
Same place. June 30th, 2010. 01.45
“Na Bi~ya,” suara yang terdengar kehabisan napas terdengar dari arah pintu ruang tamu. “Park Na Bi. Hya! Heenim! Kau benar-benar mabuk parah! Chamkanman. Beberapa meter lagi kita sampai di sofa,” gerutu si pemilik suara sambil masih membopong tubuh ramping yang berjalan tanpa sadar itu. Ia takut bila orang yang dibopongnya tiba-tiba menumpahkan isi perut ke badannya.
“Hyung!” suara lain muncul dari arah tangga yang menuju lantai bawah.
“Hya! Saeng! Palli bantu aku. Dia berat sekali.” Geun Seok, pemilik suara pertama, merasa heran. Tubuh kurus kawannya itu menjadi berat saat mabuk. “Dipta, kenapa kau di sini? Na Bi~ya, eodiga?” ia bertanya setelah berhasil mendaratkan badan bau alkohol itu di tempat empuk.
“Masih di bawah. Kenapa Heechul hyung kau bawa ke sini?” Dipta menutup hidungnya saat membetulkan posisi tidur Heechul, pria ramping yang mabuk berat. Walau ia sering hilang akal karena wine, aroma soju tidak pernah dapat ditolerir oleh hidungnya.
“Dia ada janji dengan Na Bi.” Jawaban Geun Seok membuat Dipta murung.
“Oppa, kenapa lama sekali?” ucap seorang perempuan yang datang membawa nampan dan menggamit bantal di salah satu lengannya.
“Jangan salahkan aku. Heenim tersayangmu itu masih ingin berkaraoke walau sudah tak tahu mana kiri, mana kanan,” Geun Seok menyeruput isi gelas yang diulurkan oleh Na Bi. “Gahh~. Apa ini?” protesnya setelah meludahkan cairan asam yang sempat menyentuh lidahnya.
“Hanya jeruk limau hangat. Oppa pasti juga minum bersama Heechul~nim, khan?”
“Sebotol soju tak akan membuatku mabuk, my butterfly.” Geun Seok bangkit dan mengacak rambut Na Bi. “Kau tak menggunakan kamarmu malam ini, khan? Aku akan tidur di sana,” ujarnya sambil meregangkan badannya. “Yeorobun, gudbam.” Ia memberikan senyum terbaiknya sebelum menaiki tangga.
“Jaljayo, Oppa,” jawab Na Bi. Sedangkan Dipta menatap gadis yang masih berdiri itu garang.
---
Saat ini ada tiga orang di basement gedung itu. Salah satunya adalah orang berwajah oriental yang bisa membuat sekumpulan remaja putri jatuh pingsan seketika. Dua orang lainnya yang sedang berkutat dengan berbagai kertas dan lem berkulit lebih gelap, yang tampaknya bukan penduduk asli dari Negara yang terkenal akan ginsengnya itu.
“Jangan menatapku seperti itu. Perhatikan saja kertas dan gunting di tanganmu. Kau tak mau terluka, khan?” sebuah bahasa bukan hangeug mengalir jelas dari mulut salah satu dari mereka yang ternyata perempuan.
“Ch, apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan?” timpal seorang lagi dengan suara berat yang menandakan dia seorang lelaki.
“Aku tahu. Aku sedang menge-check apa ia akan bangun lebih cepat dari perkiraanku atau tidak,” jawab si perempuan ringan, matanya sibuk mengamati pria oriental yang tak sadarkan diri di atas meja kerjanya.
“Bukan itu maksudku. Ini semua. Yang kau, emm, kalian sebut permainan. Tahukah kau apa yang akan terjadi bila ini berjalan buruk?” lelaki itu meletakkan alat tajam yang ada di tangannya. Ia tak ingin benda itu ia pakai untuk melukai seseorang yang telah ia anggap saudaranya sendiri bila ia sudah sangat frustasi dengan jawaban-jawaban sambil lalu yang ia terima.
“Aku punya lebih dari selusin rencana cadangan. Jadi kau tenang saja. Lagi pula ini sudah jadi perjanjian kami.”
“Perjanjian yang dibuat oleh sekumpulan orang mabuk tak berarti apa-apa,” sambar sang pria cepat sebelum berbagai alasan lain dikemukakan oleh sahabat bertahun-tahunnya itu.
“Aku punya kontrak yang legal. Aku juga sudah memastikan bahwa dalam kondisi sadar pun mereka ingat perjanjian itu.” Perempuan itu kini peralih ke sebuah lemari yang berisikan ibul dan bantal. “Tidurlah, ini akan sedikit lama,” ucapnya sambil menyerahkan apa yang ada di tangannya pada lawan bicaranya.
“Lish..” pria itu memberikan pandangan sendu.
“Ka, Dipta. Nan gwenchanha. I’ll finish everything before someone realized it. Jaljayo, naui saranhaneun saram,” Lish, perempuan itu tersenyum manis sebelum membelakangi Dipta yang lagi-lagi hanya bisa diam tertegun.
888
“Annyeong haseyo, Heenim. Bagaimana tidurmu?” Geun Seok menyambutku di ruang makan pagi, eh, siang itu. Untung hari ini tak ada jadwal apapun. Aku memandang sekeliling. Ini tidak lain, tidak bukan studio musik yang merangkap tempat singgahnya di Apgeujung. Bukankah tempat ini telah ia serahkan pada orang lain?
“Annyeong. Apa aku bertingkah bodoh kemarin?” tanyaku saat sekelebat ingatan memalukan mampir di otakku. Ku tarik kursi di seberang kursinya, lalu duduk.
“Ani. Hanya seorang penyanyi roker yang kehilangan suara yang tidak tahu beda kanan dan kiri.” Geun Seok masih dengan tenangnya menyantap sereal berbentuk bintang di hadapannya. “Minumlah. Itu akan mengurangi sakit di kepala dan tenggorokanmu,” katanya sambil menyodorkan segelas cairan berwarna kuning kecoklatan. “Jangan tanya. Aku tak tahu apa isinya tapi jelas manjur,” ia menjawab pertanyaan yang hanya kulontarkan dengan tatapan.
“Hari ini perasaanku sedikit ringan. Apa saat mabuk aku masuk ke tempat spa atau semacamnya?” tanyaku lagi yang kali ini tak hanya disambut senyum oleh Geun Seok tapi juga tawanya yang membahana. Badanku memang sedikit pegal karena tidur di sofa semalaman. Tapi rasanya tidak begitu lelah. Seperti baru tidur di atas tempat tidur yang nyaman.
“Kau benar merasa begitu?” ia masih berusaha menahan tawanya tapi meledak lagi saat aku mengangguk dengan wajah polos.
“Hyung. Tawamu lebih parah dari jam wekerku,” sebentuk wajah kusut muncul dari balik sofa dengan ibul yang membungkus badannya.
“Hya~! Kau mengejutkanku, Bocah!” Aku melemparnya dengan salah satu sandal yang kupakai. “Usap liurmu itu! Dasar anak menjijikkan!” kupandangi ia sampai menghilang di balik pintu kamar mandi di bawah tangga.
“Hyung, tatapanmu memang mengerikan. Tapi masih ada yang lebih mengerikan. Jadi aku tidak takut,” ia hanya menjulurkan kepalanya keluar dari balik pintu dan menunjukkan lidahnya, namun segera masuk sedetik sebelum sandal keduaku melintasi tempat kepalanya tadi berada.
“Neo, jinja. Anak macam apa itu?” Bagaimana bisa ada orang seperti itu? Tidak cukupkah eksistensi ke-evil-an Kyuhyun? Apa orang-orang sebangsa bocah ini juga evil seperti itu?
“Sudahlah. Dia hanya anak-anak. Umurnya saja belum genap dua puluh tahun,” Geun Seok tersenyum. Andai aku seorang yeoja, aku akan langsung jatuh cinta pada senyumnya itu. “Baca saja ini. Ini yang kau harapkan selama ini bukan?” ia menyerahkan secarik kertas koran yang di atasnya terdapat tulisan yang menggunakan marker hitam.
“Susah membacanya. Dan ini bukan Hangeul,” aku menyodorkan kembali kertas yang tulisannya tumpang tindih itu.
“Ini Hangeul, Heenim. Annyeong haseyo, Heechul-nim.” Geun Seok membacanya keras-keras. Tiba-tiba aku merasa tak bisa bernapas dengan baik. Heechul-nim? Hanya ada seorang manusia di dunia ini yang memanggilku Heechul-nim.
“Benarkah?” segera ku tarik kertas itu dari tangan Geun Seok. “Aku baca sendiri. Lagi pula aku juga bisa membaca kalimat dengan bahasa Inggris sekalipun,” ucapku langsung berjalan kearah ruang tengah, menyambar towel paper dan bolpoint dari pantry sebelum memosisikan diriku di sofa.
“Pwaiting, Heenim. Saranghaeyo,” ucap Geun Seok dari kejauhan sambil membentuk pola hati dengan lengannya di atas kepala.
Ku ikuti gerakannya lalu memfokuskan perhatianku pada coretan tak jelas di depanku. Ia benar. Aku sudah mengharapkan ini dari lama. Enam bulan? Delapan bulan? Setahun? Sejak comeback stage Neorago sampai promosi Bonamana. Akankah ini berjalan seseru janji orang itu?
---
“Bocah! Kau sudah tak penuh air liur lagi, khan?” ucapku sambil menepuk kepala bocah yang tadi sempat menjadi target sandalku. Kini ia sedang menikmati hal yang sama yang tadi dinikmati Geun Seok.
“Ya! Hyung. Di tempatku memegang kepala orang harus membayar denda!” protesnya berusaha mengelak dari jangkauan tanganku.
“Omong kosong!” jawabku sambil duduk di kursi sebelahnya. “Mana ada aturan seperti itu?”
“Ada! Aturanku,” jawabnya membuatku kesal.
“Kau mau keramas dengan susu dan sereal, hah?” Ku angkat mangkukku, berusaha mengancamnya.
“Ani, hyung. Aku sudah mandi barusan. Masa mandi lagi. Hyung mau aku sakit, huh?” ia menunjukkan muka tak bersalahnya. Aku jadi ingat isi surat tadi.
“Dipta, neo. Aku tak tahu apa hubunganmu dengan orang itu, tapi jangan khawatir. Kami tahu apa yang kami lakukan. Bahkan kontraknya sudah dapat lampu hijau dari Soo Man Sajangnim,” aku mengatakan apa yang harus kukatakan. Orang itu menganggap Dipta adalah anak baik-baik yang punya kekhawatiran berlebih. Jadi dari pada nanti merusak acara, lebih baik aku yang terjun langsung ke dalam hal ini yang mengatakan padanya.
“Aku? Khawatir? Memang aku khawatir, hyung? Untuk apa mengkhawatirkan dirimu? Lebih baik mengkhawatirkan diriku yang tak diberi ransum makanan secara teratur olehmu,” jawabnya enteng.
“Neo..” aku sudah siap dengan sendok di tanganku, namun terhenti sebelum sempat mengenai kepalanya.
“Sudahlah. Kalian ini.” Geun Seok menyambar sendok itu, memutar-mutarnya di tangan. “Heenim, kau lapar tidak? Hongki mengajak kita makan. Dia rindu bulgogi di depan dorm-mu.”
“Eo. Aku mandi dulu. Aku ingin berendam. Igeo. Makan saja. Aku lebih memilih bulgogi dari pada tepung kering dan susu.” Ku dorong mangkukku ke arah Bocah Neraka itu.
“Gomawo, hyung. Kau tahu saja aku sangat lapar, tapi Geun Seok hyung melarangku mengambil porsi tambahan.” Ia tersenyum senang di bawah tatapan kesal Geun Seok, membuat meja makan tiba-tiba riuh saat aku mulai menaiki tangga. Saat ku lirik, dua insan itu sedang berebut sereal di mangkuk yang sebelumnya menjadi milikku. Bukannya masih ada satu porsi lagi yang tersisa di kardusnya? Untuk apa berebut? Dan kenapa juga kamar mandi yang ber-bath up ada di lantai dua? Sebenarnya aku malas harus naik turun begini. Aku yang menaiki tangga diiringi teriakan bahkan umpatan dari lantai bawah. Apa kata Geun Seok tadi? Ch. Dia bahkan lebih parah dariku.
“Geun Seok! Aku pinjam bajumu! Kau letakkan dimana?” teriakku sebelum mencapai pintu kamar satu-satunya di lantai dua.
“Di lemari ada beberapa t-shirt. Jangan ambil yang abu-abu! Akan ku pakai hari ini!” jawabnya di antara pergulatan sereal.
“Ah, hyung! Yang hitam untukku!” Dipta mengalihkan pandangannya kepadaku, memberi kesempatan pada Geun Seok untuk melarikan mangkuk serealnya kearah ruang tamu. “Hyung! Itu punyaku!” ia berlari di belakang Geun Seok.
“Kalian menggelikan!” teriakku sebelum memasuki kamar.
“Heechul Hyung!” suara Bocah Neraka itu membuatku keluar dari kamar lagi. “Jangan pakai yang putih atau kau akan tahu akibatnya!” Ia terlihat membawa mangkuk kemenangannya ke dekat tangga.
“Hya! Siapa kau berani mengancamku?” Baru kali ini ada anak kecil yang berani padaku. “Araseo! Aku pakai yang lainnya.” Aku masuk lagi ke kamar. Lagi pula hanya t-shirt. Apa yang harus diributkan?
Aku mengobrak-abrik lemari di sudut ruangan, melihat tumpukan jeans dan jaket. Tapi bukan itu yang aku cari. Aku beralih ke pintu selanjutnya dan menemukan turtle neck abu-abu milik Geun Seok dan t-shirt hitam pesanan Bocah Neraka, juga yang putih. Terakhir aku hanya mendapati kemeja katun berwarna merah jambu.
“Argh!” Ingin rasanya aku menelan dua orang di lantai bawah. Apa ku pakai saja t-shir putih itu? Tapi bila bocah itu sampai mengancam, lebih baik aku menurutinya saja. Lebih baik aku segera mandi karena badanku bau soju dan sangat lengket.
Aku hampir masuk ke kamar mandi saat aku merasa sesuatu bergerak di atas tempat tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar